Nabi Muhammad SAW bersabda, akan datang zaman sedikit ahli fikihnya, banyak penceramahnya. Orang yang memberi sedikit, sedangkan yang meminta-minta banyak. Saat itu manusia lebih mementingkan ilmu dibandingkan amal. (HR. Ath-Thabarani)

Kini, zaman yang diprediksi oleh Nabi, sudah bisa kita rasakan. Lihat saja fenomena-fenomena yang bermunculan. Para penceramah dan pendakwah begitu banyak dari pada ahli fikihnya. Bahkan bukan hanya lulusan pesantren yang diwajibkan untuk terjun menjadi penceramah, para artis juga turut meramaikan. Ironisnya, ada orang yang baru mempelajari ilmu agama dalam beberapa waktu yang singkat, sekarang sudah menjadi penceramah.

Berbeda dari hadis di atas, seharusnya kita lebih memilih ahli dalam bidang fikih, bukan penceramah. Karena pondasi beragama itu bukan sekedar dakwah, tetapi memahami agama secara mendalam. Hal yang paling dasar dalam beragama adalah memahami fikih.

Belajar ilmu fikih artinya mempelajari hukum-hukum syariah yang sifatnya perbuatan (amaliyah) serta hukum tersebut dinisbatkan atau digali dari dalil-dalil yang terperinci. Sehingga, ketika beribadah kita sudah benar dan sesuai dengan hukum-hukum fikih. Kemudian, setelah itu lanjut mempelajari ilmu akhlak. Tujuan belajar fikih, agar ibadah kita dengan Tuhan berjalan dengan baik dan benar. Serta, tujuan ilmu akhlak, agar kita dapat bersosial dengan manusia  dengan penuh akhlak dan adab.

Penceramah saat ini, begitu banyak yang belum memahami dasar-dasar ilmu agama yang kuat. Sebab, yang mereka yakini hanya sekedar menyampaikan apa yang mereka dapatkan. Bukan ilmu yang berkaitan dengan tata cara beribadah kepada Allah SWT dan melakukan sunah-sunah Nabi.

Aba ‘Abdurrahman suatu ketika ditanya oleh sahabatnya terkait sunnah yang ditinggalkan oleh orang-orang. Kapan hal itu terjadi? Ibnu Masud panggilan akrab dari (Aba ‘Abdurrahman) menjawab: “Apabila para pembaca Al-Quran dari kalian banyak, tetapi ahli fikih kalian sedikit. Jika umara’ kalian banyak, tetapi orang-orang yang amanah di antara kalian sedikit, kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat”. (HR. Ad-Darimi).

Sebelum menjadi penceramah atau pendakwah, seharusnya kita belajar ilmu agama yang mendalam dan dalam waktu yang lama. Bukan seperti ustadz-ustadz milenial pada zaman sekarang, ilmunya baru sedikit, tapi sangat percaya diri melenggang ceramah di mana-mana.

 Ilmu bermanfaat itu bukan sekedar didakwahkan akan tetapi diamalkan. Penceramah hanya bonus saja ketika kita mempunyai ilmu. Bahkan banyak orang Indonesia yang ilmu agamanya melebihi dari para penceramah-penceramah di televisi dan sosial media. Mereka lebih tertarik mengamalkan ilmunya dalam kehidupan daripada mempunyai ilmu pas-pasan tapi banyak berbicara dimana-mana.

Oleh karena itu, sebaiknya bagi para pegiat ceramah yang sudah berdakwah dimana-mana, jangan berhenti belajar ilmu agama. Sebab yang dibutuhkan Indonesia saat ini, bukan hanya sekedar penceramah yang mempunyai beberapa dalil saja, tetapi tidak memahami aspek ilmu agama yang mendalam, akan tetapi yang dibutuhkan Islam masa kini adalah orang yang memahami ilmu agama yang luas seperti para ulama dan kyai. Sebab itu, perlu bagi kita memahami ilmu agama secara menyeluruh bukan setengah-setengah lalu disampaikan.

Kondisi seperti ini disebut dekadensi ilmu agama. Agama hanya sebagai media mencari dunia. Bukan agama sebagai media beramal. Lebih baik ilmu sedikit amalnya banyak, dari pada ilmunya sedikit tapi bicaranya banyak.

Oleh: Asep Supandi

%d blogger menyukai ini: