Media sosial kini tak ubahnya seperti agama baru di abad ini. Penganutnya bukan alang-kepalang banyaknya. Hampir semua kalangan mempunyai media sosial. Tidak hanya artis, pejabat, musisi, pengusaha, orang kota, dan orang kampung tidak ada bedanya. Terlebih anak-anak muda.

Menurut data dari We Are Social, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2020 ini mencapai 175,4 juta, naik sekitar 17 persen dari tahun sebelumnya. Dari total populasi Indonesia yang jumlahnya sekitar 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% setengah penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Dengan 160 juta pengguna aktif media sosial.

Ironisnya, dengan jumlah pengguna sebanyak itu, media sosial seolah menjadi kebutuhan pokok. Akibat kecendrungan akan media sosial ini, banyak oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan untuk menjalankan pelbagai kejahatan.

Media sosial memang dikenal mampu mendekatkan yang jauh, dan menguatkan yang rapuh, katanya. Tetapi ketergantungan pada media sosial, bukan saja mendekatkan yang jauh, tetapi bisa memenangkan sebuah peperangan. Sebaliknya jika kita abai, akan kalah dan hancur. Seperti  diungkapkan jurnalis dan penulis buku War in 140 Characters: How Media Social Media is Reshaping Conflict in The Twenty-First Century, David Patrikarakos, ‘’Siapapun sekarang tidak bisa berperang tanpa menggunakan media sosial. Kalau kita mengabaikan sosial media, bisa dipastikan pihakmu tidak akan menang.”

Pernyatan David Patrikarakos terbukti adanya, ketika  Israel yang menang melawan pejuang Hamas di lapangan, tapi kalah dalam perang. Lalu konflik antara Rusia dan Ukrania, yang mana Presiden Rusia melakukan propaganda media sosial secara massif sebagai bagian dari strategi militer. Kedua narasi ini beradu di media sosial. Hasilnya, Israel kalah dalam menggiring opini publik internasional.

Dalam era ini, tidak bisa dipungkiri bahwa kekuatan besar  telah berpindah tangan, dari instansi ke perusahaan media besar, beralih ke individu dan jaringan sipil. Manusia kini menjelma menjadi homo digitalis, artinya abad ini memunculkan pemberdayaan individu. Setiap individu terjaring dan terhubung secara global dan yang kamu butuhkan hanya smartphone dan jaringan internet.

Tidak ada larangan bermedia sosial, akan tetapi jangan sampai meninggalkan dan melupakan ajaran agama. Jangan pula gunakan media sosial untuk memfitnah, menyebar kebencian, informasi hoaks, dan adu domba. Agama, termasuk Islam, tidak membenarkan atau sangat melarang umatnya memfitnah, menyebar kebencian, memprovakasi, mengadu domba dan sebagainya yang berujung pada perpecahan dan pertikaian. Karena itu, pengguna media sosial ketika menggunakan berbagai aplikasi media sosial harus sejalan dengan nilai-nilai Islam serta nilai-nilai agama lainnya, bagi masing-masing pemeluk agama.

Islam sendiri tidak pernah alergi terhadap perkembangan teknologi. Bahkan menurut Gellner, Islam menjadi agama yang paling dekat dengan modernitas, diantara agama-agama yang monotheis dunia, seperti Yahudi dan Kristen.

Dengan demikian, kita sebagai generasi milenial, harus bijak betul dan tau etika dalam menggunakan  media sosial. Jangan pula menjejali media sosial dengan berita-berita sampah yang membuat diri celaka. Tetaplah berbudi pekerti, sebab orang tanpa budi pekerti sama saja dengan mobil tanpa lampu. Jejak digital tidak akan luput dari pengamatan, bukan saja oleh malaikat, oleh teknologi pun bisa terdeteksi. Maka mulailah dengan terus menebar kebaikan, kedamaian dan cinta. Kini bukan lagi mulutmu harimaumu, tapi media sosialmu harimaumu.

Oleh: Ahmad Shohifin

%d blogger menyukai ini: