Agustus menjadi momentum tahunan, rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Kemerdekaan yang dalam catatan sejarah, diraih dengan semangat nasionalisme dan pertumpahan darah melawan penjajah. Hampir tiga setengah abad lamanya, masyarakat Indonesia hidup dalam kegelapan. Tujuh puluh lima tahun sudah, masyarakat Indonesia menghirup udara segar, buah hasil dari perjuangan para pahlawan. Sebuah kemerdekaan yang dicita-citakan sejak lama.

Nasionalisme menjadi semangat fundamental mendirikan negara yang merdeka dan bedaulat. Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang berpacu pada konsensus politik dalam mencapai cita-cita kemerdekaan. Menciptakan sebuah negara yang gotong-royong, senasib sepenanggungan, dan berkorban menjaga harkat serta martabat bangsa. Bung Karno menafsirkan nasionalisme dalam arti luas, “Nasionalisme yang mencerminkan humanisme dan internasionalisme yang terlahir dari tiga kondisi, yaitu adanya eksploitasi ekonomi, kekecewaan politik atas dominasi asing, dan lunturnya hak mengembangkan kebudayaan lokal akibat sistem kolonial.”

Kemerdekaan, yang semestinya dirayakan dengan semangat nasionalisme, suka-cita, antusias, dan bahagia, kali ini terlihat sebaliknya. Wabah Covid-19 yang tidak pernah diprediksi sebelumnya, menjelma menjadi hantu yang menakutkan bagi dunia, termasuk Indonesia.

Perayaan kemerdekaan di tengah pandemi dan derasnya arus globalisasi menjadi tantangan nyata dalam kesadaran nasionalisme di Indonesia. Aktivitas yang sedianya dilakukan secara luring diubah, dan kita dituntut untuk terbiasa melakukannya secara daring. Menikmati fasilitas teknologi dan media yang secara masif menampilkan konten-konten vulgar seantero dunia yang dapat menggerus dan memengaruhi kebudayaan lokal.

Namun, di tengah pandemi dan serba keterbatasan ini, semestinya bukan menjadi alasan lunturnya nasionalisme. Kemerdekaan di tengah pandemi seharusnya menjadi refleksi penguatan nasionalisme. Menunjukkan kepada para pahlawan dan founding fathers, bahwa kita dapat merawat dan melestarikan semangat dan perjuangan kemerdekaan.

Sama halnya melawan penjajah, melawan Covid-19 pun tanpa adanya semangat nasionalisme dan gotong royong akan teramat sulit. Di Indonesia misalnya, per tanggal 19 Agustus, tercatat kasus positif berada di angka 143.043, sembuh 96.306, dan menelan 6.277 korban jiwa. Angka yang sangat fantastis. Tak dapat dipungkiri, pertumbuhan angka korban akan terus melonjak dan bahkan dapat berdampak lebih luas, seperti pada sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Oleh karena itu, di era pandemi ini, sudah sepatutnya kita mengobarkan kembali semangat nasionalisme, bersama membantu pemerintah dalam melawan Covid-19, menciptakan cita-cita bangsa dan negara, menjunjung solidaritas sosial, dan gotong royong, serta mematuhi protokol kesehatan.

Sebagaimana ajakan Presiden Joko Widodo ke masyarakat Indonesia dalam pidato tahunannya memperingati HUT RI ke-75, untuk bersama melawan ancaman bencana global dan melakukan lompatan besar, serta mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain dalam semua hal. “Pemerintah tanpa rakyat bukan siapa-siapa, rakyat tanpa pemerintah akan goyah.”

Walhasil, negara yang merupakan konsensus bersama dapat menumbuhkan solidaritas sosial, rasa persatuan, serta semangat gotong royong dalam berbangsa dan bernegara. Menciptakan kesadaran, semangat cinta Tanah Air, memelihara kehormatan bangsa, dan rasa empati terhadap sesama di era pandemi, sehingga peringatan HUT RI ke-75 akan menjadi saksi sejarah, semangat kemerdekaan dan kecintaan kita terhadap Tanah Air masih berkobar dalam menghadapi penjajah dalam bentuk lain, bukan lagi kolonialisme dan imperialisme, tetapi Covid-19.

Oleh: Fajar Insani

%d blogger menyukai ini: