Ada apa dengan agama saat ini, sehingga banyak sekali orang belajar agama mengunakan media sosial seperti facebook, youtube dan twitter. Bukankah pembelajaran agama memerlukan guru yang mampu memberikan pemhaman mendalam dan juga positif, berlawanan yang kita ketahui bahwa media sosial dipandang sebagai otoritatif, apalagi terkait dengan pembelajaran agama mengunakan media sosial.

Media sosial merupakan pilihan untuk mencari  informasi atau sekedar mencari teman baru umumnya. Pada kenyataannya, media sosial sekarang beralih fungsi menjadi majelis taklim online. Seperti yang terjadi saat ini, seorang mualaf  yang baru memeluk agama Islam tanpa sekolah agama atau pesantren, langsung mengajarkan agama Islam dan diberikan gelar ustadz.

Fenomena belajar Islam secara online, boleh disyukuri bahwa masih banyak orang yang ingin mendalami ilmu agama. Walaupun tanpa mengetahui seperti apa orangnya, keilmuan dan akhlak keseharian ustadz tersebut.

Yang dikhawatirkan dari fenomena belajar agama dari media sosial adalah apa dan bagaimana sebuah pelajaran yang disampaikan oleh ustadz tersebut, sehinga tidak mudah disusupi oleh ideologi intoleransi, ideologi tansnasional dan ideologi radikalisme.

Menurut data dari Statista, Jumlah pengguna aktif facebook di Indonesia pada kuartal –I 2019 mencapai 120 Juta lebih pengguna, sedangkan di google search untuk kata kunci ‘Belajar Islam’ dicari lebih dari 36 Juta kali oleh pengguna.  Sedangkan berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2019, indeks diseminasi media sosial Indonesia mencapai  angka 39,89  dari skor tertinggi 100.

 “Ada 9,89 orang di Indonesia mengunakan platfrom media sosial untuk mencari dan menyebarkan konten agama”  Ujar Fachrul Rozi,  dalam Rapat Koordinasi Nasional Indonesia Maju di Sentul International Convention Center, Bogor, Rabu (13/11/19)

Menyikapi masyarakat Indonesia yang gemar belajar Islam mengunakan media sosial, Pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah, Gus Yusuf. Ada dua hal penting yang harus diperhatikan oleh masyarakat, pertama, harus memperhatikan bagaimana ustadz dan keilmuannya. Kedua, jelas siapa guru agama yang dijadikan guru dan sumber pembelajaran agama, seperti akhlak dan perilaku kesehariannya.

Sah-sah saja, mepelajari agama dari manapun, termasuk media sosial yang notabene memiliki berbagai sumber sehingga baik pelajaran umum hingga pelajaran agama. Namun perlu kita waspadai, kelompok-kelompok radikal dan ekstremis memiliki cara untuk merekrut dan membujuk seseorang mengunakan ideologi transnasional dengan cara mengunakan media sosial dan internet.

Menimbang saat ini, banyak sekali paham-paham yang disebarluaskan oleh kelompok radikal, kelompok transnasional dan ekstremis, menggunkan media sosial dan internet, sehingga dapat menimbulkan perpecahan dan pergolakan antara umat beragama. Masyarakat harus pandai dalam memilih cara dan siapa yang bisa dijadikan guru, untuk dijadikan sumber dalam belajar agama Islam dimedia sosial.

Oleh: Aan Sugita

%d blogger menyukai ini: