Setiap hari Jumat, akhir bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat bermakna. 41 tahun yang lalu, Imam Khomeini menegaskan perlunya umat Islam memberikan perhatian terhadap penderitaan yang dihadapi oleh Palestina. Bapak revolusi Islam Iran ini seakan-akan sudah bisa meneropong masa depan yang kelam, bahwa Palestina akan menjadi bangsa yang terjajah paling lama di jagad ini, karenanya memerlukan perhatian khusus. Kita harus memberikan kepedulian dan keberpihakan terhadap Palestina.

Pada tahun ini, kita memperingatinya dengan penuh duka. Pasalnya, posisi Palestina terus terjajah, semakin terpuruk, bahkan menyedihkan. Masa depan Palestina berada dalam lorong-lorong kegelapan. Bayangkan, Amerika Serikat dan Israel terus melakukan penjajahan terhadap Palestina tanpa ada upaya serius dalam menghadang manuver-manuver mereka.

AS berhasil memindahkan Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem, dan disusul beberapa negara lainnya. Lalu, AS dan Israel semakin melangkah ke depan dengan upayanya untuk menguasai penuh atas Jerusalem, termasuk di dalamnya kawasan suci Masjid al-Aqsha. Melalui proposal dan peta jalan unilateral, “Kesepakatan Abad ini” atau yang dikenal dengan Deal of Century, AS dan Israel menawarkan ibu kota bagi Palestina di kawasan luar Jerusalem, dengan iming-iming kompensasi 50 Milyar dollar AS bagi Palestina untuk pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekonomi.

Sontak, sikap unilateral AS dan Israel tersebut menimbulkan kemarahan dari semua faksi politik di Palestina, Timur-Tengah, dan dunia Islam. Secara implisit, AS dan Israel sebenarnya mempunyai agenda yang lebih besar, yaitu hanya satu negara di masa mendatang, yaitu Israel. AS dan Israel sedang mendesain proposal busuk yang dikenal one state solution.

Hal tersebut sejalan dengan proses politik yang berlangsung di Israel dalam setahun terakhir dengan melakukan amandemen konstitusi berhasil melahirkan konstitusi baru Israel, yang semula berpijak pada demokrasi dan hak asasi manusia menjadi konstitusi yang bernuansa fundamentalis dan ekstremis, yaitu Israel menjadi Negara Yahudi. Jadi sebenarnya, Israel sedang ingin membangun imperium Yahudi Raya di kawasan, termasuk di tanah Palestina.

Faktanya, Israel terus melakukan pembangunan ilegal di kawasan Tepi Barat, yang itu berarti Israel akan terus melakukan perluasan kawasan yang terus mengancam eksistensi warga Palestina. Bahkan, Netanyahu setelah dikukuhkan sebagai Perdana Menteri baru-baru ini juga menyampaikan rencana besar Israel untuk melanjutkan pembangunan ilegal di Tepi Barat. Intinya, Israel ingin mengusir warga Palestina dari tanah kelahirannya, sehingga tanah warga Palestina akan berpindah tangan menjadi tanah Israel.

Puncaknya, AS dan Israel mempunyai recana busuk untuk menguasai penuh kota suci Jerusalem, khususnya kawasan Masjid al-Aqsha. Selama ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi penguasa penuh atas kota suci Jerusalem sebagai kota internasional. Dan semua pihak menerima resolusi PBB tersebut, meski dalam realitasnya Israel yang memegang kendali atas kota suci Jerusalem, termasuk kawasan suci Masjid al-Aqsha. 

Langkah selanjutnya, AS dan Israel melalui “Kesepakatan Abad Ini” mendesak agar kota suci Jerusalem resmi menjadi ibu kota Israel. Dan Palestina tidak mempunyai kedaulatan atas Jerusalem, khususnya kawasan suci Masjid al-Aqsha.

Itulah narasi penjajahan bernuansa ekstremisme dan terorisme yang selama ini dijalankan secara mulus oleh AS dan Israel terhadap Palestina. Di luar Palestina, kita melihat AS juga terus berupaya melemahkan negara-negara yang selama ini berani memberikan perlawanan terhadap penjajahan AS, seperti Iran, Suriah, dan Yaman.

Maka dari itu, momentum Hari al-Quds sebenarnya menjadi momen yang sangat penting untuk mengingatkan pada kita semua perihal pentingnya perlawanan terhadap aktor ekstremisme global yang sebenarnya. AS dan Israel selama ini dengan mudah menuduh negara-negara yang ditindas, seperti Palestina, Iran, Yaman, dan Suriah sebagai teroris. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. AS dan Israel yang sebenarnya menjadi ekstremis dan teroris ulung di kawasan.

Dalam beberapa dekade terakhir, AS dan Israel secara de facto telah membuktikan dirinya sebagai ekstremis dan teroris global yang sebenarnya, karena telah melakukan penjajahan terhadap negara-negara yang berdaulat. Mereka menutupi aktivitas penjajahannya dengan membangun opini yang bersifat masif, seolah-olah mereka pejuang kemanusiaan. Padahal mereka secara terencana, terstruktur, dan massif melalukan politik penjajahan.

Saya berpandangan, bahwa konflik, kehancuran, dan ketertinggalan negara-negara di kawasan Timur-Tengah merupakan akibat dari penjajahan AS dan Israel. Bahkan narasi konflik sektarian, seperti Sunni-Syiah yang berlangsung awet di kawasan dan dunia Islam merupakan narasi yang sengaja dilanggengkan oleh AS dan Israel. Begitu halnya dengan menguatnya kelompok-kelompok teroris dan takfiri di kawasan dan dunia Islam, juga merupakan hasil kreasi AS dan Israel untuk melapangkan ambisi mereka dalam rangka menguasai Timur-Tengah, khususnya meneguhkan eksistensi Israel, dan sebaliknya berupaya melumpuhkan Palestina.

Hari al-Quds yang digagas oleh Imam Khomeini pada tahun 1979 telah menjadi momentum menyadarkan kita semua, bahwa selama itu pula penjajahan AS dan Israel di kawasan dan dunia Islam tidak pernah mengalami perubahan. Bahkan mereka semakin telanjang dalam memuluskan misinya. Sebab itu pula, kita tidak boleh diam dengan terus menumbuhkan kesadaran sejarah, sosial, dan politik agar terus memberikan pencerahan, bahwa penjajahan kaum ekstremis dan teroris global belum dan tidak akan pernah berakhir.

Kita tidak boleh diam. Kita harus melawan secara terhormat, dengan membangun opini dan kekuatan bersama seluas-luasnya. Saya bermimpi dan berharap, Indonesia mengambil peran strategis dalam menyatukan langkah bersama dalam skala yang lebih besar. Utamanya, berperan serius dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina, serta aliansi baru yang dulu pernah dilakukan Bung Karno pada tahun 1955.  

Intinya, Indonesia harus berada di garda terdepan dalam melawan penjajah dan penjajahan di muka bumi ini, termasuk melawan penjajahan yang dilakukan AS dan Israel. Khusus Palestina, saya hanya ingin mengingatkan, bahwa kemerdekaan Palestina adalah hutang yang harus dibayar oleh kita semua, sehingga Palestina benar-benar merdeka dan benar-benar berdaulat.

Zuhairi Misrawi, cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

%d blogger menyukai ini: