Suatu negara pasti memiliki ciri khas yang menjadikan negara tersebut dikenal oleh bangsa atau negara lainnya, sebagai salah satu Indentitas. Bangsa Indonesia mempunyai ciri khas sejak awal nenek moyang yang diwariskan ke generasi selanjutnya yaitu gotong royong.

Pada Undang-undang 32 tahun 2009 tentang perlindungan lingkungan hidup bertujuan untuk melindungi NKRI dari pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan hingga antisipasi isu lingkungan global.

Gotong royong merupakan, salah satu budaya kearifan lokal dan menyatukan perbedaan. Ya benar, Indonesia memiliki berbagai perbedaan karena luas wilayah negara yang sangat besar. Dahulu kala, gotong royong sangat erat. Bagaimana dengan perkembangan gotong royong itu sendiri di era globalisasi? Masih sama dengan zaman dulu apa sudah mengalami perubahan.

Pada kenyataannya, ketika kita melihat budaya gotong royong pada zaman sekarang, betapa mirisnya karena budaya tersebut telah memudar tergilas arus globalisasi. Banyak budaya baru yang masuk, seperti modernisasi dan lain sebagainya. Masyarakat cenderung lebih individualis, konsumtif dan kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan dan senasib sepenanggulangan dirasa tidak lagi penting.

Alasan lain, yang membuat masyarakat Indonesia sudah mulai melupakan nilai-nilai luhur dari budaya gotong royong adalah sifat-sifat seperti malas, yang mana sifat malas ini membuat mereka enggan untuk melakukan kegiatan bersama-sama. Mereka lebih mementingkan suatu perangkat kecil yang mempunyai banyak fungsi yaitu gadget, yang membuat gaya hidup masyrakat khususnya garis milenial berubah mengikuti kebudayaan negara lain.

Fakta menunjukkan bahwa milenial identic dalam penggunaan teknologi internet usia 10 sampai 34 tahun. Pengguna internet yang berusia di atas 55 tahun hanya sebesar 2 persen. Di kalangan mahasiswa, pengguna internet mencapai 89,7% di kalangan kelompok pelajar mencapai 69,8% dan pada kalangan kelompok kerja mencapai 58,4%.

Dengan demikian, walaupun gadget banyak memberi keuntungan bagi pemakainya, jika tidak bijak mengunakannya, bisa memberi kerugian. Salah satunya, ketidakmampuan untuk hidup sendiri. Kita perlu membatasi waktu pengunaannya, sehingga tidak dapat menganggu waktu berharga untuk bisa menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehipan sehari-hari. Akseslah situs-situs yang memang bermanfaat dan membuat kita semakin cerdas.

Melihat begitu, besarnya hati dan jiwa para pahlawan akan masa depan bangsa, di tengah rumitnya situasi yang mencekam. Kita sebagai generasi milenial tidak bisa hanya duduk dan menikmati kemerdekaan saat ini, namun kita kaum milenial harus mampu berperan aktif mewujudkan Indonesia yang harmoni melalui penghayatan nilai-niai luhur gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

Maka dari itu, pada hakikatnya generasi milenial harus tetap memelihara nilai-nilai leluhur yang ditanam, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, gotong royong serta musyawarah untuk mufakat dalam rangkan mewujudkan keadilan sosial. Namun, yang lebih penting adalah untuk menerapkan pada diri sendiri dan menebarkannya ke generasi milenial lain yang sama-sama berperan penting dalam menciptakan Indonesia damai, aman dan tentram. Marilah kita maju ke depan membangun kembali budaya gotong royong di negeri tercinta ini.

Oleh: Ayu Astri Oktora

%d blogger menyukai ini: