Hari ini, 17 Agustus 2020, negara tercinta kita, merayakan hari kelahirannya yang ke-75 tahun. Usia yang cukup dewasa untuk sebuah negara. Namun aura kegembiraan dari Sabang sampai Merauke sedikit meredup, ini disebabkan adanya pandemi yang tak kunjung usai.

Selayaknya dalam sebuah rumah, satu sakit, semua ikut berperan mencari solusi penyelesainya. Bagaimana rumah itu menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali, tentu kita sendiri yang bisa menciptakan suasana itu. Suasana bahagia dan tentram tanpa pertikaian ditengah perbedaan. Rumah itulah tempat kita melepas lelah dan bercengkrama dengan keluarga, membangun perdaban dan membangun cita-cita untuk masa depan.

Dalam sebuah rumah, tentu tidak semua baik belaka, yang salah kita ingatkan, yang baik kita pertahankan terus, tidak jadi apa, begitulah akal sehat mengajar kita. Untuk membangun rumah yang baik, memerlukan pondasi yang kokoh, dan dalam pengerjaannya pun harus sepenuh hati. Dengan keyakinan yang kuat tentang masa depan, akan menjadi pegangan hidup. Ketika kinerja sudah baik, niat sudah kuat, tunjukkanlah kelebihan positif untuk memotivasi. Jangan kemudian kita menjadi sombong, jadilah pribadi bangsa yang bersahaja nan berkarisma.

Seorang yang bijak pernah berpesan,  ‘’Meraih itu lebih mudah daripada mempertahankan’’.  Maka sudah sepantasnya kita sebagai pewarisnya menjaga dengan sepenuh jiwa raga dan membentengi dari paham-paham radikalisme kadrun yang ingin menggrogoti, memecah belah bangsa dan merusak rumah kita. Indonesia itu sudah indah nan mempesona tanpa embel-embel khilafah, karena sejatinya, dalam prakteknya sudah sesuai dengan syariah. Sudah damai dengan kebhinekaannya. Sudah islami dengan Pancasilanya, karena Indonesia dibangun oleh para ulama, oleh orang-orang sholeh dengan keringat dan darah, bahkan nyawa, juga telah mendapat ridla dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Apapula kurangnya Indonesia? Soal perbedaan bisa dilawan dengan kebiasaan. Juga, Indonesia  banyak lautnya, gampang kalau mau makan ikan. Laut kita tidak akan kehabisan kekayaannya. Jangan ditanya lagi soal kekayaan hutan dan alamnya, yang menyimpan jutaan bahan pangan dari tanaman obat, sampai tanaman untuk bahan furniture, ada disini.

Janganlah di rusak dengan isu-isu PKI dan sebagainya. Bersama-sama kita wajib menjaga nama baik, harkat martabat yang sudah dibangun para pahlawan bangsa, agar Indonesia yang menjadi rumah kita  ini, tetap kokoh, indah, terjaga, disegani dan dikagumi oleh dunia.

Jangan sampai, hanya karena beda partai, beda pandangan politik, atau lantaran punya idiologi baru, lalu ingin menggeser ideologi yang lama, yang sudah jadi ideologi negara, dan telah disepakati bersama. Jangan kemudian menjadikan saudara jadi musuh atau musuh jadi saudara. Yakinlah, setiap ketakutan dan kecemasan akan luluh jika ego kita kesampingkan, karena sejatinya ego tidak pernah ada, hanya keadaan yang datang dan pergi. Perbedaan agama dan pandangan politik hendaknya tidak menjadi masalah besar, tidak menjadi bibit perpecahan, tapi semakin mempererat tali persaudaraan.

Sejatinya, rumah adalah sudut pandang dan rasa. Ia tidak datang dari luar, tapi dari diri. Maka kita perlu menjaga rumah kita dengan baikdan benar, seperti pesan KH.Musthofa Bisri (Gu sMus), ‘’Indonesia adalah rumah kita, tempat kita lahir, tempat kita mencari nafkah, tempat kita bersujud, maka kitalah yang harus menjaga secara bersama sama Indonesia ini dan jangan biarkan orang lain merusaknya.”

Oleh: Ahmad Shohifin

%d blogger menyukai ini: