ISLAMRAMAH.CO, Kiai As’ad Syamsul Arifin dikenal sebagai ulama kharismatik asal Situbondo, Jawa Timur. Ia kerap kali tampil ketika keadaan-keadaan kritis, sementara setelah keadaan mulai stabil, Kiai As’ad akan kembali fokus mengurus pesantren dan masyarakat. Pada tahun 1982, Kiai As’ad tampil sebagai pemain utama dalam pentas kehidupan nasional, bukan hanya di pentas kaum ‘sarungan’, tapi juga di kalangan kaum ‘berdasi’ dan ‘bersafari’.

Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 M di kota suci Makkah. Tak ada yang tahu secara persis tanggal dan bulan kelahirannya. Saat itu kedua orang tuanya, yakni KH. R. Ibrahim dan Nyai Maimunah tengah menunaikan ibadah haji. Sebagaimana kebiasaan waktu itu, kedua orang tuanya bermukim di Mekkah dalam waktu yang cukup lama. Mereka kembali ke kampung halaman, desa Kembang Kuning Pamekasan Madura pada tahun 1901 M, saat Kiai As’ad masih berusia 4 tahun.

Kiai As’ad mempunyai silsilah keluarga sampai Nabi Muhammad Saw dan mempunyai hubungan darah dengan beberapa wali penyebar Islam di Nusantara. Ayahnya adalah putra dari KH. Ruham/ KHA. Rahim bin Khadijah binti Ismail bin Zainuddin bin Umar bin Abdul Jabbar bin Khatib bin Sayyid Maulana Ahmad al-Baidowi bin Pakaos bin Syarif bin Sunan Kudus. Menurut berbagai sumber Sunan Kudus adalah keturunan ketiga belas dari Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Pada tahun 1908, empat tahun sepulang dari Tanah Suci, Kiai Ibrahim (ayah Kiai As’ad) datang ke Situbondo membabat hutan untuk mendirikan pesantren. Pesantren itu baru terwujud pada tahun 1914 dalam bentuk bangunan yang sederhana, ia memimpin pesantren tersebut hingga wafat pada tahun 1951. Kiai As’ad menggantikan kepemimpinan ayahnya. Sejak dipimpin Kiai As’ad, pesantren bernama Salafiyah Syafi’iyah Ibrahimiyah atau pesantren Sukorejo tersebut terus mengalami pengembangan, baik dari segi wilayah maupun jumlah santri yang datang.

Sebelumnya Kiai As’ad pernah belajar di pesantren Guluk-guluk Sumenep Madura dan belajar kepada Kiai Kholil Bangkalan, lalu pesantren Sidogiri Pasuruan, pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo dan pesantren Tebuireng Jombang. Ia juga pernah belajar di Mekkah. Dengan bekal pembelajarannya itu, kiai As’ad dikenal sangat memahami kitab kuning, terutama di bidang ilmi alat seperti ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah, selain itu juga ilmu tauhid, tafsir, dan ilmu fikih serta thariqat.

Tanggal 2 Mei 1982 menjadi momen bersejarah bagi Kiai As’ad. Saat itulah kemunculannya di pentas nasional berawal. Ia bersama Kiai Ali Ma’shum (mantan Rias Aam PBNU sekaligus pengasuh pondok pesantren Krapyak Yogyakarta) dan kiai Machrus Ali (pengasuh pondok pesantren Lirboyo Kediri) menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kala itu, Kiai Idham Chalid. Dari pertemuan itulah itulah lahir pernyataan kemunduran Idham Chalid dari ketua PBNU.

Peristiwa itu tidak hanya menghebohkan kalangan NU, melainkan juga masyarakat dan bangsa Indonesia secara umum. Maklum saja, ketika itu Kiai Idham Chalid masih menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Kehebohan makin bertambah ketika Kiai Idham Chalid mencabut kembali pernyataan pengunduran dirinya 12 hari setelah pertemuan dengan tiga kiai besar itu.

Keadaan itu memancing reaksi pro dan kontra, dari itulah nama Kiai As’ad mencuat. Untuk meredam pro-kontra itu meski di usia senja, Kiai As’ad tak kenal Lelah menemui pejabat-pejabata negara, termasuk Presiden Soeharto. Media pun tak henti-hentinya menyoroti Kiai As’ad, termasuk kehidupan keluarganya yang semula banyak tidak diketahui masyarakat. Dalam tempo yang sangat singkat nama Kiai As’ad menghiasi media massa dan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat.

Perjalanan hidup Kiai As’ad menjadi perwujudan dari sosok yang tampil ketika masa-masa krisis, seperti ketika NU diambang jurang kehancuran dan ketika negara yang sedang menghadapi persoalan hubungan dengan Pancasila. Namun demikian, Kiai As’ad hanya muncul sekejap tampil di pentas. Karena ketika situasi sudah kembali normal, ia akan tenggelam dan memilih kembali mengabdi kepada masyarakat dan umat.

%d blogger menyukai ini: