ISLAMRAMAH.CO, Di era tahun 80-an, status Pancasila sebagai asas tunggal menjadi perdebatan kalangan umat muslim Indonesia. Kiai Achamd Siddiq tampil dan memaparkan pemikirannya tentang hubungan Pancasila dengan Islam. Buah pemikirannya membawa Nahdlatul Ulama menjadi ormas Islam pertama di Indonesia yang menerima pancasila sekaligus meneguhkan kembalinya NU ke Khittah 1926.

KH Achmad Siddiq lahir di Jember Jawa Timur pada 24 Januari 1926. Ia putra ke 16 dari 25 bersaudara. Selepas tamat SD, Kiai Achmad Siddiq melanjutkan perjalanan intelektual ke berbagai pesantren di Tanah Jawa, termasuk di pesantren Tebuireng Jombang. Ia pernah menjadi sekretaris Kiai Wahid Hasyim ketika menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Kelak, Kiai Achmad Siddiq berduet memimpin Nahdlatul Ulama dengan putra Kiai Wahid, yakni Kiai Abdurrahman Wahid atau dikenal Gus Dur.

Kiai Achmad Siddiq dikenal sebagai sosok yang berpandangan moderat dan unik. Sebagai pemimpin Rais Aam PBNU dan pemimpin pesantren, ia dikenal sangat alim dalam ilmu agama dan mempunyai apresiasi tinggi pada kesenian. Ia menyukai lantunan lagu-lagu Ummi Kulsum, penyanyi terkenal asal Mesir. Ketika ulama masih berbeda pendapat mengenai Pancasila sebagai asas tunggal negara Indonesia, Kiai Achmad Siddiq mengatakan, “Ibarat makanan, barang yang sudah kita kunyah bertahun-tahun, kok sekarang diributkan.”

Perkataan ini begitu populer pada awal tahun 80-an. Kalimat sederhana itu ternyata memiliki bobot logika yang tinggi. Dengan kalimat tamsil Kiai Achmad Siddiq mempertahankan pendiriaannya di hadapan para alim ulama dalam Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983 silam. Sejak tampil di Munas tersebut, Kiai Achmad Siddiq melejit kepopulerannya bak bintang kejora di kalangan ulama-ulama Indonesia. Pemikirannya juga memantabkan NU untuk kembali ke khittah 1926, yakni tidak lagi menjadi bagian dari partai politik praktis.

Sebenarnya Kiai Achmad Siddiq sudah mengintrodusir dasar-dasar pemikiran Khittah Nahdliyah sejak tahun 1979 dengan menyusun pokok-pokok pikirannya sebagai sumbangan berharga bagi warga NU. Barulah pada 19-20 Desember 1983 di depan ratusan ulama, Kiai Achmad Siddiq mempertanggung jawabkan pemikirannya dengan makalah setebal 34 halaman yang ditulisnya sendiri.

Pemaparan itu sungguh luar biasa. Ratusan ulama NU di Indonesia sejak awal telah menampik Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, sikap yang sama juga menjadi kecenderungan mayoritas umat Islam Indonesia. Para ulama khawatir Pancasila akan menggantikan peran agama di Indonesia. Namun dengan pemaparan dan logika Kiai Achmad Siddiq yang begitu mudah dipahami, lambat laun para ulama dan umat Islam pada umumnya secara berangsur memahami bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, bahkan merupakan inti ajaran Islam itu sendiri.

“Ibarat makanan, Pancasila ini sudah kita kunyah selama 38 tahun, kok kita persoalkan halal-haramnya,” ujar Kiai Achmad Siddiq dengan tegas. Sejak pemikiran itu dilontarkan, sejarah mencatat bahwa NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Itulah salah satu prestasi besar Kiai Achmad Siddiq sekaligus membuktikan kapasitas keulamaan dan kemampuan intelektualnya. Pemikiran itu kemudian dibukukan berjudul Pancasila dan Khittah Nahdliyah.

Tidak sampai di situ, melalui layar televisi pasca Muktamar NU ke-27 tersebut Kiai Achmad Siddiq kembali menegaskan prinsip penerimaan ulama pada Pancasila. “Bagi NU, Republik Indonesia merupakan bentuk final dari upaya seluruh bangsa Indonesia,” ujarnya. Di bawah kepemimpinan Kiai Achmad Siddiq selaku Rais Aam dan Gus Dur selaku Ketua Tanfidziyah, pamor NU terangkat kepermukaan dan makin menunjukkan peran yang signifikan terhadap hubungan Islam dan kebangsaan.

Kiai Achmad Siddiq dikenal sebagai ulama yang piawai menggunakan tamsil untuk mengungkapkan pikirannya. Pada pembukaan Muktamar NU ke-28 tahun 1989 di Krapyak Yogyakarta, Kiai Achmad Siddiq mengungkapkan kalimat tamsil tentang NU secara jitu. “NU itu ibarat kereta api, bukan taksi yang bisa dibawa sopirnya kemana saja. Rel NU sudah tetap,” ungkapnya dengan tegas. Karena kepiawaian dan kedalaman ilmunya para muktamirin memilih mempertahankan duet Kiai Achmad Siddiq dan Gus Dur untuk memimpin NU.

Pada tanggal 23 Januari 1991, Kiai Achmad Siddiq meninggal dunia. “Tugas saya di NU sudah selesai,” demikian ucapnya kepada rombongan PBNU yang menjenguk di RS Dr. Soetomo Surabaya. Setelah itu ia menghadap sang Khaliq tepat sehari sebelum hari kelahirannya. Sesuai permintaannya sendiri, Kiai Achmad Siddiq dimakamkan di pemakaman Auliya (para waliyullah) di Desa Ngadi, Mojo Kediri Jawa Timur, sebuah tempat di mana para ulama-ulama penghafal al-Quran dimakamkan.

%d blogger menyukai ini: