ISLAMRAMAH.CO, Kiai Shaleh Darat merupakan guru inspirator R.A Kartini. Dari proses belajar kepada Kiai Shaleh Darat, pelopor kebangkitan perempuan pribumi itu menulis surat kepada teman-temannya di luar negeri (Belanda) yang terangkum dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Surat-surat itu terinspirasi dari Kiai Shaleh Darat, yang memberikan terjemahan al-Quran Jawa Juz 1 kepada R.A Kartini, terutama ketika memaknai surat al-Baqarah ayat 257, min al-dhulumat ila al-nur (dari kegelapan menuju cahaya).

Nama lengkapnya adalah Muhammad Shalih bin Umar al-Samarani atau lebih dikenal dengan Kiai Shaleh Darat. Ayahnya, Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Kiai Shaleh Darat lahir di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara Jawa Tengah, sekitar tahun 1820 M. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/ 18 Desember 1903 M.

Ia disebut Kiai Shaleh Darat karena tinggal di Kawasan bernama Darat, yaitu daerah dekat pantai utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa. Kini wilayah tersebut termasuk Semarang Barat. Sebagai anak seorang kiai, ia telah akrab dengan pendidkan Islam sejak kecil. Sebelum menimba ilmu ke Mekkah, ia telah belajar ke banyak kiai di Tanah Jawa, seperti KH M. Syahid, Kiai Raden Muhammad Shaleh bin Asnawi Kudus, Kiai Ishak Damaran Semarang, Syaikh Abd al-Ghani Bima, dan masih banyak lagi lainnya.

Di Mekkah, Kiai Shaleh Darat cukup lama memperdalam keilmuannya. Ia belajar kepada banyak ulama besar seperti Syaikh Muhammad Al-Maqri Al-Mashri, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Nahrawi al-Muhsri, Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi, Kiai Zaid, Syaikh Umar al-Syami, Syeikh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri, Syaikh Jamal dan masih banyak lainnya. Setelah belajar di Haramaian ia banyak bersentuhan dengan ulama-ulama besar Indonesia, seperti Kiai Nawai Banten, Syeikh Ahmad Khatib, Kiai Mahfudz al-Tarmasi, dan Kiai Khalil Bangkalan.

Di antara ulama yang pernah berguru kepada Kiai Shaleh Darat adalah KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Kiai Raden Dahlan Tremas, seorang ahli falak, Kiai Dimyathi Tremas, Kiai Kholil Rembang, Kiai Munawwir Krapyak, Kiai Yasin Rembang, Kiai Idris Solo, Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang, Kiai Ali Barkan, Kiai Muhab Arifin dan sebagainya, sampai R. A. Kartini Jepara.

Kiai Shaleh Darat termasuk ulama yang sangat produktif. Sangat banyak karya-karya yang lahir dari tangannya, di antara yang terkenal adalah Kitab Majmu’at al-Syari’at al-Kafiyat li al-‘Awam, Kitab Munjiyat Metik Saking Ihya’ ‘Ulum al-Din al-Ghazali, Kitab Latha’if al-Thaharat, Kitab Pasolatan, Kitab Jauhar al-Tauhid, Kitab Minhaj al-Atqiya, Kitab al-Mursyid al-Wajiz, Kitab Tafsir Faidh al-Rahman dan sebagainya.

Kiai Shaleh Darat sering memberikan pengajian tentang tafsir al-Quran di beberapa kabupaten di pesisir utara Jawa. Suatu ketika R. A. Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. R. A. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para Raden Ayu lain dari balik khitab (tabir/ tirai). Kartini merasa tertarik tentang materi yang sedang diberikan saat itu, tafsir al-Fatihah. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk bertemu Kiai Shaleh Darat.

Dalam pertemuan itu, Kartini banyak bertanya kepada Kiai Shaleh Darat tentang banyak hal, seperti hukum seseorang berilmu, tetapi menyembunyikan ilmunya. Kiai Shaleh Darat tertegun mendengar pertanyaan Kartini. Akhirnya, Kiai Shaleh Darat menerjemahkan al-Quran ke dalam Bahasa Arab. Ketika hari pernikahan Kartini, Kiai Shaleh Darat memberikan al-Quran terjemahan juz 1. Sejak itu Kartini giat mempelajari al-Quran. Sayangnya setelah itu, Kiai Shaleh Darat wafat.

%d blogger menyukai ini: