ISLAMRAMAH.CO, Iran menjadi simbol negara Muslim paling demokratis di Timur Tengah. Sejak revolusi Iran tahun 1979, pemilihan pemimpin di Iran berlangsung secara demokratis dan partisipatoris. Di tengah embargo ekonomi oleh kekuatan global, Iran mampu menjadi negara yang mandiri di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, hatta pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Iran bertekad membangun peradaban luhur dan melawan arogansi dunia.

Demikian pesan yang mengemuka dalam diskusi bincang Timur Tengah bertema “Setelah 41 Tahun Revolusi Islam Iran” yang digelar IslamRamah.co bekerjasama dengan The Middle East Institute di Aula The Wahid Foundation, Jakarta, Kamis, (6/2). Hadir sejumlah narasumber di antaranya Cendekiawan Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi, Pengamat Iran Ammar Fauzi, dan Konselor Kebudayaan Iran Mehrdad Rakhshandeh Yazdi.

Mehrdad menegaskan bahwa Iran tidak akan berhenti membela kaum lemah dan tertindas, termasuk negara-negara yang menjadi sasaran eksploitasi oleh kekuatan global. Iran pun menurutnya, akan melawan kezaliman dan penindasan dunia. “Iran akan selalu membela kaum mustad’afin (kaum lemah), dan melakukan perlawanan terhadap arogansi dunia,” tegasnya.

Menurut Mehrdad, di tengah tekanan dunia terhadap ekonomi Iran, negara para mullah tersebut justru masih bisa mandiri dan berdiri tegak. Kezaliman terhadap Iran bukan melemahkan Iran, justru ketidakadilan itulah yang menurutnya akan terus menguatkan rakyat Iran. “Berkat perlindungan Allah SWT, tekanan terhadap Iran justru menguatkan Iran,” ungkapnya.

Mehrdad merasa bersyukur rakyat Iran masih memiliki spirit perjuangan para pejuang revolusi Iran. Menurutnya, Imam Khameini sebagai tokoh sentral revolusi telah memberikan peninggalan yang begitu berharga bagi spirit perjuangan rakyat Iran. “Kebebasan dan kemerdekaan itulah peninggalan berharga Imam Khameini,” tuturnya.

Sementara Ammar Fauzi mengatakan, Iran sejak dulu menghadapi tantangan kabar bohong dan fitnah. Menurutnya, bila di Indonesia mutakhir ini marak muncul informasi bohong atau hoaks, maka di Iran sesungguhnya hoaks sudah lama disebarluaskan untuk mendelegitimasi kemadirian Iran itu sendiri. “Sejak tahun 1979, tahun revolusi, Iran sudah diserang hoaks,” papar pria yang pernah tinggal di Iran selama 18 tahun tersebut.

Tugas pemimpin Iran menurutnya adalah menularkan semangat revolusi dan perjuangan pemimpin Iran terhadap generasi milenial. Pasalnya, generasi saat ini tidak terlibat secara langsung dalam pergerakan dan perjuangan revolusi Iran. “Tantangan Iran menghubungkan spirit revolusi kepada generasi ketiga, keempat dan seterusnya,” ujar doctor lulusan salah satu kampus di Iran tersebut.

Zuhairi Misrawi atau akrab disapa Gus Mis berbagi pengalaman saat pertama kali mengunjungi Iran. Menurutnya, masyarakat Iran sangat ramah dan terbuka terhadap kelompok lain, termasuk kepada kelompok Sunni. “Saya pertama kali datang ke Iran sebagai tamu begitu dihormati oleh orang-orang Iran yang notabene adalah Syiah, padahal saya sendiri Sunni. Spirit Iran ini sesuai hadis Nabi man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir falyukrim dhaifah, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamu,” ujar jebolan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir tersebut.

Gus Mis merasa prihatin atas pelbagai konflik yang terjadi di Timur Tengah, apalagi konflik tersebut dipicu oleh sektarianisme. Gus Mis merasa tidak menemukan nilai-nilai Islam yang menekanan perdamaian dan kerukunan di Timur Tengah. “Di Timur Tengah, umat Islam ada, namun tidak ada Islam,” pungkas Gus Mis.

%d blogger menyukai ini: