Kiai Achmad Chalwani: Bershalawat Adalah Ekspresi Kecintaan Kepada Nabi

ISLAMRAMAH.CO, Setiap Muslim yang taat tentu senantiasa menjalankan perintah Allah SWT sebagai bentuk ketaatan seorang hamba terhadap Tuhan-Nya. Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan kewajiban seorang Muslim seperti melaksanakan ibadah shalat, puasa, zakat, dan haji. Dari beberapa ibadah yang dicontohkan Nabi tersebut, terdapat ibadah yang bernilai istimewa karena Allah dan para malaikat Nya pun melaksanakannya, yaitu bershalawat kepada Rasulullah SAW. Shalawat menempati kedudukan utama karena menjadi ekspresi kecintaan seorang Muslim kepada sang pembawa risalah kenabian terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Menurut Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Achmad Chalwani Nawawi, dari beberapa ibadah seorang Muslim, Allah tidak melaksanakannya, namun ketika Allah memerintahkan bershalawat, Allah sendiri juga bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan bahwa membaca shalawat mempunyai keistimewaan tersendiri sehingga kaum muslim pun dianjurkan untuk selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bershalawat adalah sebagai bentuk ekspresi kecintaan serta meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-harinya.

“Allah perintahkan manusia untuk shalat, puasa, zakat tapi Allah tidak mengerjakan. Tapi Allah perintahkan manusia shalawat untuk Nabi, Allah juga bershalawat,” terang Kiai Chalwani dalam tausiyahnya saat mengisi ‘Mijen Bershalawat’ di halaman Masjid Al Muhajirin, Jatisari, Mijen, beberapa waktu lalu dilansir dari situs nu.or.id

Ulama yang juga pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Purworejo tersebut menjelaskan bahwa keutamaan bershalawat adalah dimudahkannya segala urusan dan dikabulkannya segala hajat. Hal ini cukup beralasan karena salah satu syarat dikabulkannya doa adalah mencintai Nabi Muhammad SAW. Membaca shalawat dengan istiqomah akan melahirkan rasa kecintaan terhadap Nabi yang pada akhirnya dapat meneladani segala apa yang diajarkan Nabi. “Orang yang sedang jatuh cinta itu dia akan selalu merindukan kekasihnya. Dan, ciri orang yang mencintai Nabi itu dia akan meneladani apa saja yang dikerjakan oleh Nabi,” terang Kiai Chalwani.

Dalam kesempatan itu, ulama yang dikenal juga sebagai mursyid thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah tersebut menerangkan perihal kontribusi santri dalam melawan penjajah kolonial. Kiai Chalwani, begitu beliau akrab disapa, menjelaskan bahwa Pahlawan Nasional seperti Pangeran Diponegoro sejatinya adalah seorang santri karena pernah berguru dengan sejumlah kiai di Pesantren di Yogyakarta, Solo, dan Magelang. Namun mirisnya kisah ini tidak diceritakan dalam buku sejarah resmi.

Lebih lanjut Kiai Chalwani menuturkan, ulama-ulama dulu dalam berdakwah selalu menggunakan bahasa daerah setempat. Hal ini menujukkan bahwa ulama terdahulu sangat menghormati budaya setempat, penggunaan bahasa daerah akan menciptakan keakraban serta memudahkan dalam proses berdakwah karena dapat dimengerti oleh penduduk lokal. Dan yang paling penting adalah kedatangan Islam tidak ingin merubah budaya setempat menjadi budaya Arab namun lebih penting dari itu adalah menciptakan kehidupan yang harmoni serta menjadi muslim dengan budaya Nusantara yang sangat kaya ini.  

“Ulama dulu bertemu dengan orang Jawa berbahasa Jawa. Ketemu Melayu berbahasa Melayu. Mereka berdakwah dengan bahasa dan budaya kaumnya,” pungkas ulama asal Purworejo tersebut.

Comments
Loading...