Habib Luthfi: Seorang Guru Amat Mulia

ISLAMRAMAH.CO, Salah satu kewajiban seorang Muslim adalah menebar kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar makruf nahi mungkar). Namun dalam praktiknya, amar makruf nahi mungkar yang dipahami oleh sebagian masyarakat hanya terbatas dalam perilaku  berdakwah di mimbar dan menutup kedai minuman keras, serta menutup tempat yang dianggap sarang maksiat. Walaupun anggapan itu tidak serta merta salah, namun jangan sampai terjadi penyempitan makna, karena guru ngaji yang mengajarkan shalat dan baca Alquran pun termasuk dalam kategori amar makruf nahi mungkar.

Menurut ulama kharismatik asal Pekalongan, Jawa Tengah Habib Luthfi bin Yahya, keberadaan dan jasa seorang guru ngaji tidak boleh disepelekan. Jasa guru ngaji sangatlah besar karena  merekalah yang pertama-tama mengajarkan kepada para santri bagaimana tata cara shalat maupun  membaca Alquran. Sehingga Habib Luthfi beranggapan, menjadi guru ngaji termasuk dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar.

“Sejatinya orang yang amar makruf nahi mungkar yang sesungguhnya adalah mereka para guru ngaji di mushala-mushala, guru madrasah di kampung-kampung yang mengajarkan pendidikan salat,” ujar Habib Luthfi dalam sebuah ceramahnya yang diunggah di Youtube.

Ulama yang menjadi pimpinan Majelis Kanzus Shalawat itu berpendapat, dalam Al-Quran Allah SWT menyebutkan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar sehingga dapat dipahami jika seorang yang mengajarkan shalat, sudah barang tentu ikut andil dalam beramar makruf nahi  mungkar. Lagi-lagi kedudukan seorang yang menjadi guru ngaji sangatlah mulia, karena ditangan merekalah santri-santri kampung mengenal dasar-dasar agama.

“Allah berfirman, Inna sholata tanha ‘anil fahsai wal munkar Jadi merekalah orang-orang yang mengajarkan salat yang menegakkan amar makruf nahi munkar yang sesungguhnya,”

Oleh karena itu, pesan ulama yang menjadi mursyid Jam’iyyah Ahlit Thariqah Mu’tabarah an Nadhliyyah (JATMAN) tersebut, jangan sampai menyepelekan posisi guru ngaji yang telah mengajarkan kita di waktu kecil, boleh jadi kita sekarang sudah tinggi ilmu dan kedudukan, namun jika sampai kita merendahkan guru ngaji, maka hidup akan menjadi tidak berkah, karena dari guru ngaji lah, sumber pemahaman agama kita dapatkan.

“Janganlah sombong kepada mereka atau bahkan meremehkan mereka karena ilmu mereka biasa-biasa saja, karena apa yang kalian peroleh pada hari ini bersumber dari mereka.” Pungkas Habib Luthfi.

Comments
Loading...