ISLAMRAMAH.CO, Islam merupakan agama yang mewajibkan kepada umatnya untuk menimba ilmu sepanjang hayat. Bahkan dalam salah satu hadis disebutkan, umat Islam hendaknya menimba ilmu hingga liang lahat. Kewajiban itupun tak kenal jarak dan usia, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa, baik di negeri sendiri hingga ke negeri China, semua diperintahkan untuk senantiasa menjadi pribadi yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari hidupnya.

Meskipun demikian, bagi orang yang telah memperoleh ilmu, sebesar atau sekecil apapun, hendaknya tidak merasa sombong dengan ilmu yang didapatnya. Hal itu penting karena tolok ukur keberkahan ilmu seseorang adalah ketika ia semakin memperoleh ilmu, maka semakin rendah hati kepribadiannya. Apabila menimba ilmu tetapi keangkuhan menjadi besar, maka sebenarnya ia gagal dalam proses pencarian intelektualnya.

Dalam dunia pesantren, sikap rendah hati itu disebut dengan istilah tawadhu’. Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang berhasil menciptakan pribadi-pribadi yang tawadhu’. Seorang kiai biasanya tidak hanya mengajak santri untuk bersikap tawadhu’ melalui perkataan semata, melainkan juga melalui tindakan nyata. Maka dalam sejarahnya, seorang santri kerapkali menjadi model dan contoh pribadi tawadhu’.

Dalam kaitannya dengan tawadhu’, KH Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri menegaskan, bahwa sikap tawadhu’ bukan berarti secara otomatis menjadi pribadi yang rendah. Justru melalui sikap tawadhu’ seseorang bisa menjadi pribadi yang dihormati karena tidak pongah atas pengetahuan yang dimilikinya. Tawadhu’ adalah cerminan rendah hati, tidak sombong, dan puncak keluhuran dan moralitas seorang pembelajar sejati.

Tawadhu’ itu bukan asor (rendah). Tapi merasa tidak bisa apa-apa, walaupun punya ilmu banyak tapi tidak dirasa. Yang dirasa hanya kekurangannya saja,” tegas KH Anwar Manshur dalam videonya yang diunggah di Chanel Youtube Majalah Santri.

Dengan demikian, tawadhu’ menjadi penting dimiliki setiap pribadi yang menimba ilmu agar tidak terjebak pada egoisme dan kesombongan yang bisa menjerumuskan dirinya sendiri ke jurang kehancuran. Tentu saja, kita bisa belajar kepada pesantren dan santri sebagai role model pribadi yang tawadhu’ di tengah-tengah era krisis spiritual ini.

%d blogger menyukai ini: