Habib Jindan: Dakwah Harus Disampaikan Dengan Santun

ISLAMRAMAH.CO, Keagungan Islam terletak pada ajarannya yang selalu menekankan akhlakul karimah dalam segala aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal berdakwah. Nabi Muhammad SAW selama hidupnya, selalu menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kesantunan dan kasih sayang, sehingga orang yang tadinya acuh terhadap Nabi menjadi simpatik, bahkan banyak yang tertarik masuk Islam karena merasakan betul begitu mulianya akhlak Nabi. Namun mutakhir ini, tidak jarang kita menjumpai mimbar dakwah dijadikan sebagai ajang caci-makian kepada mereka yang tidak sepaham. Jelas, ini bertentangan dengan prinsip dakwah yang diajarkan Nabi.

Pesan itulah yang mengemuka saat Pimpinan Yayasan Al Fachriyah, Tangerang Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan memberikan ceramahnya di Tangerang beberapa waktu lalu. Habib Jindan beranggapan bahwa di dalam literatur manapun, tidak pernah dijumpai Nabi Muhammad SAW menyampaikan hujatan dan cacian dalam dakwah-Nya.”Dalam kitab atau literatur apa pun, tak pernah dijumpai catatan bahwa Nabi Muhammad itu kasar dan suka mencaci. Maka, bila saat ini ada pendakwah yang mudah mengeluarkan hujatan, entah kepada siapa dia belajar berdakwah. Pastinya bukan kepada Nabi Muhammad,” ujar Habib Jindan.

Ulama yang pernah menempuh pendidikan di Darul Musthafa, Yaman tersebut berpendapat bahwa esensi dakwah adalah mengajak umat untuk lebih taat kepada Allah, bukan malah membawa urusan sepele, seperti politik dalam ceramahnya. Habib Jindan menganggap, dakwah yang demikian bisa dikategorikan penipuan karena mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadinya. “Dakwah Islam itu mengajak kepada Allah, pada kebaikan. Bila dakwah mengajak kepada selain Allah, kepada urusan dunia atau politik misalnya, maka itu penipuan karena mengatasnamakan dakwah agama,” ujarnya.

Habib Jindan juga mengingatkan kepada setiap  muslim untuk mengembalikan masjid yang sudah terkotori dengan fitnah dan provokasi dikembalikan sebagai mana fungsi aslinya, yaitu sebagai tempat ibadah, pendidikan, dan persatuan. Hal ini menegaskan bahwa tidak selayaknya tempat suci, seperti masjid digunakan sebagai tempat menyemai bibit hoaks dan radikalisme. “Selain itu, kami juga berharap, kegiatan ini menjadi tonggak untuk menggerakkan mesjid sebagai fungsi ibadah, pendidikan, dan persatuan. Bukan provokasi, politisasi, hoaks, dan radikalisme,” pungkasnya.

Comments
Loading...