Indonesia Kiblat Islam Moderat Dunia

ISLAMRAMAH.CO, Keberagaman yang luar biasa di Indonesia, baik keragaman suku, budaya, bahasa dan agama tidak menjadikan negara kepulauan tersebut terpecah belah. Keberagaman yang ada justru menjadi kekuatan untuk menjalin persatuan dan kesatuan dengan kesepakatan bersama (ittifaq mutabadal) dan dalam bingkai Pancasila. Persatuan masyarakat di Indonesia tak lepas dari corak keberislaman masyarakat Muslim Indonesia yang moderat (tawasut). Secara kuantitas, masyarakat Muslim di Indonesia menjadi mayoritas. Secara otomatis, Muslim Indonesia memberi peran besar terhadap persatuan Indonesia.

Senada dengan hal tersebut, menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, Indonesia merupakan pusat Islam moderat dunia. Pasalnya, pluralitas budaya, suku, dan agama masyarakat Indonesia tidak menjadi konflik, justru menjadi rahmat. “Indonesia merupakan pusat wasathiyah (moderat-red) di dunia, keberagaman ini bisa di-managedengan baik karena peran lembaga pendidikan Islam, dari pesantren hingga perguruan tingginya,” kata Kamaruddin, Ahad (25/8) di Pesantren Tebuireng Jombang. 

Menurut Kamaruddin, generasi Muslim muda Indonesia pun memberikan harapan baik untuk masa depan Islam moderat Indonesia. Sebab, ribuan pesantren tak henti-hentinya mengkaderisasi santri-santri untuk menjadi pemimpin Muslim moderat di masa depan. Kaderisasi ini menjadi yang terbesa di dunia. “Santri yang usia anak-anak saja di pondok pesantren lebih dari tujuh jutaan, ini paling besar di dunia. Maka karekter keberagamaan Indonesia, dipengearuhi tradisi keilmuan di pendidkan Islam,” tukasnya. 

Kamaruddin juga menambahkan, jika dibanding dengan negara-negara dengan penduduk Muslim yang cukup besar seperti Pakistan, India, Afganistan atau negara Muslim lainnya, maka seringkali bicara pendidikan Islam dikonotasikan sebagai lembaga pendidikan yang terbelakang, bahkan lembaga sebagai tumbuh suburnya gerakan intoleran. Namun Indonesia menjadi pengecualian, bahkan mampu mencengangkan dunia dengan negara demokrasi terbesar di dunia, namun Islam dan kebangsaan mampu berjalan beriringan. “Dianggap sebagai tempat berkecambahnya terorisme di negara Muslim itu, sebagai lembaga nonformal terbelakang,” pungkas Kamaruddin. 

Comments
Loading...