Kiai Marzuki Mustamar: Hati-hati Memilih Guru Agama

ISLAMRAMAH.CO, Dunia kini berubah begitu pesat. Perkembangan tekhnologi yang luar biasa telah mengubah paradigma hidup sebagian besar umat manusia di muka bumi ini. Peredaran informasi begitu pesat, perjalanan transportasi amat cepat, dan teknologi komunikasi begitu mudah digunanakan oleh setiap orang. Realitas dunia yang disebut dengan industri 4.0 ini mendisrupsi tradisi, budaya, dan cara hidup umat manusia.

Hal itu juga berpengaruh terhadap cara keberagamaan umat Muslim di dunia, termasuk di Indonesia. Dulu, kriteria untuk disebut sebagai seorang ulama harus memiliki kedalaman dan keluasan ilmu serta kearifan yang luar biasa bijaksana. Namun demikian, di era teknologi informasi ini, siapapun bisa mengkaliam sebagai ustad, bahkan disebut ulama. Melalui media sosial, seseorang bisa memamerkan kelincahan lidah serta retorika kata-kata indah sehingga bisa menghipnotis umat.

Atas kepiawaian memainkan retorika itulah sebagian pihak terkesima sehingga mudah menyebut penceramah-penceramah di media sosial sebagai ulama. Padahal kriteria ulama tak semudah itu. Menurut Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, umat Islam hendaknya berhati-hati menyebut seseorang sebagai ulama, apalagi menjadikannya sebagai guru agama. Umat diminta tidak mudah menjadikan seseorang yang hanya piawai berceramah sebagai guru agama.

Pasalnya, dalam Islam, seorang guru memiliki tempat yang begitu istimewa. Seorang guru agama adalah mereka yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah, yang senantiasa memiliki sanad keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah Saw. “Jangan sembarangan cari guru agama. Cari guru yang ahlussunnah wal jamaah, kata Kiai Marzuki dalam peringatan Nuzulul Quran di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, Jawa Timur (23/5).

Comments
Loading...