Haedar Nashir: Kekuatan Islam Moderat Indonesia Besar

ISLAMRAMAH.CO, Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmed al-Tayeb dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus menandatangani dokumen persaudaraan manusia di Uni Emirat Arab, Senin (4/2). Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, penandatanganan deklarasi yang mewakili umat Islam dan Katolik tersebut, menegaskan kemauan dan keyakinan bahwa seluruh umat beragama dapat hidup damai dan bekerja sama demi tegaknya peradaban dunia.

“Indonesia memiliki akar kuat dan pengalaman cukup kaya dalam budaya toleransi. Kini, kita hanya perlu memperluas dan mengembangkan zona toleransi ke berbagai ruang publik. Sekaligus juga, mengembangkan model-model resolusi konflik yang lebih bervariasi,” jelas Haedar pada Rabu (6/2)

Menurut Haedar, kekerasan yang beberapa kali terjadi di Indonesia bersumber dari gerakan radikalisme agama yang makin keras dan menunjukkan eksistensinya. Namun demikian, Haedar menegaskan bahwa kekuatan Islam moderat di Indonesia jauh lebih besar. “Rusaknya toleransi di negeri ini karena tumbuhnya paham ‘keras’ dan faktor politik yang sama mengerasnya. Tetapi kekuatan moderat jauh lebih besar, tinggal memobilisasinya secara lebih meluas agar kekuatan tengah (moderat) menjadi lebih dominan di ruang publik,” tegasnya.

Haedar juga menyarankan agar negara serius menghadapi ancaman radikalisme. Menurutnya, penanganan radikalisme di Indonesia harus berjangka panjang, bukan berjangka pendek. Ia juga mengatakan, kekuatan Islam moderat bisa menghadapi radikalisme agama di Indonesia. “Negara harus memiliki peta jalan yang jelas dan lengkap dalam menghadapi radikalisme, tidak parsial dan dengan jalan pendek. Ini harus didialogkan dengan kekuatan-kekuatan moderat untuk menyamakan pikiran dan langkah strategis menghadapi radikalisme,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, dokumen persaudaraan manusia tersebut antara lain berisikan seruan agar pemimpin dunia, pemegang keputusan politik, dan ekonomi internasional agar bekerja keras menyebarkan budaya hidup berdampingan secara damai dan toleran. Dokumen itu dibuat atas keprihatinan terhadap merosotnya etika, nilai spiritualisme, dan tanggung jawab sehingga terjadi sikap kecewa, putus asa, pengisolasian diri, ateis, dan radikal.

Comments
Loading...