Ngaji Maraqi Al-‘Ubudiyah: Memelihara Persahabatan (Bagian 3)

ISLAMRAMAH.CO, Ketujuh, hendaklah engkau membela sahabatmu bila ada yang menyinggung kehormatannya, sebagaimana ia membela dirinya sendiri. Hal ini lebih besar pengaruhnya dalam menumbuhkan kecintaan karena di antara hak-hak persaudaraan adalah melindungi dan membela seorang teman, serta menegur dan menunjukkan sikap marah kepada siapa saja yang mengganggunya. Rasulullah menggambarkan dua orang yang bersaudara seperti dua tangan; yang satu membasuh yang lainnya agar mereka saling tolong menolong.

Kedelapan, nasihatilah temanmu dengan lemah lembut dan bijaksana manakala engkau melihatnya berbuat kesalahan atau dosa, dengan cara menerangkan mudarat dari perbuatan yang ia lakukan dan menjelaskan manfaat apabila ia meninggalkannya, serta mengingatkan akibat buruk dari perbuatannya di dunia dan di akhirat. Nasihatilah secara diam-diam atau ketika ia sendirian tanpa diketahui oleh orang lain. Karena, memberi nasihat di hadapan orang banyak tidak ubahnya menjelek-jelekkannya dan mencemarkan nama baiknya.

Kesembilan, pernyataan di atas senada dengan ungkapan Imam Syafi’i, “Barangsiapa menasehati saudaranya secara diam-diam maka ia telah menasihatinya dengan cara bijaksana. Dan barangsiapa menasihatinya secara terang-terangan, berarti ia telah mencemarkan dan menjelek-jelekkannya.

Kesepuluh, jangan menegur kesalahan seorang teman dengan kebencian. Bukalah pintu maafmu bila ia kurang bisa memenuhi hak-hak persaudaraan atau telah berbuat maksiat, meskipun engkau sanggup membalasnya karena sikap seperti ini lebih besar pahalanya di sisi Allah. Apabila temanmu secara terus menerus berbuat dosa dan maksiat (melanggar perintah agama) nasihatilah ia dengan lemah lembut dan bijaksana supaya ia bertobat. Apabila ia kurang bisa memenuhi hak-hak persaudaraan, maka memaafkannya lebih utama dan lebih baik.

Kesebelas, seseorang berkata, “Sebaiknya engkau memiliki 70 macam alasan untuk memaafkan kesalahan saudaramu. Jika hatimu tidak bisa menerimanya, salahkanlah dirimu dan katakanlah kepada hatimu: ‘Betapa kerasnya engkau. Ia mengajukan 70 macam alasan kepadamu, namun engkau menolaknya.’ Maka, sesungguhnya engkaulah yang tercela, bukan saudaramu. Lantas, seandainya ia tidak mau menerima nasihat dan perbaikan darimu, sebisa mungkin jangan marah, meskipun hal itu sulit untuk dilakukan.

Dua belas, Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa dibangkitkan kemarahannya tetapi tidak marah, maka ia adalah keledai. Dan barangsiapa diminta kerelaannya, sedangkan ia tidak rela maka ia adalah setan. Maka dari itu, jangan menjadi keledai maupun setan, tetapi mintalah keridhaan kepada hatimu untuk memaafkan kesalahan temanmu, dan takutlah menjadi seperti setan tatkala engkau tidak mau memaafkannya.

Comments
Loading...