Gus Mis: Dosa Hoaks Lebih Besar Dari Pembunuhan

ISLAMRAMAH.CO, Berita bohong (hoaks) merupakan kejahatan besar dan pelakunya mendapatkan dosa besar, bahkan lebih besar dari dosa pembunuhan. Hoaks tidak hanya menyebabkan perpecahan masyarakat, tetapi juga menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa fitnah (hoaks) lebih kejam dari pembunuhan. Sudah banyak negara-negara bahkan peradaban hancur lebur karena virus-virus hoaks yang disebarluaskan oleh orang-orang tak berkemanusiaan.

Menurut intelektual muda Nahdlatul Ulama, Zuhairi Misrawi atau akrab disapa Gus Mis, orang yang benar-benar mengerti Islam tidak mungkin membuat dan menyebarkan hoaks. Dalam prinsip dasar ajaran Islam telah diterangkan bahwa fitnah merupakan perbuatan keji yang amat dilarang oleh agama Islam. Siapapun yang gemar membuat hoaks, maka ia sesungguhnya tidak mencerminkan sebagai seorang Muslim. Sebab, seorang Muslim senantiasa memberikan keselamatan kepada orang lain, bukan justru menghancurkan kehidupan orang.

“Kalau orang Islam harusnya mengerti bahwa hoaks itu dosa besar. Bahwa fitnah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan,” kata Gus Mis saat menjadi pembicara pada diskusi yang bertajuk “Hoaks, Integritas KPU dan Ancaman Legitimasi Pemilu.” Kegiatan ini berlangsung di Whiz Hotel Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/1).

Gus Mis mengingatkan pula bahwa banyak negara-negara yang hancur lebur karena hoaks. Virus hoaks menurutnya amat berbahaya karena virus itu tidak tampak secara kasat mata. Walakin, racun dalam hoaks itu bisa mengancurkan persatuan dan kesatuan suatu bangsa. “Bagaimana di Kenya itu gara-gara hoaks yang memainkan isu sara, dalam waktu tidak lama, hanya satu jam karena hoaks, 900 orang meninggal,” ujar Direktur Moderate Muslim Society itu.

Selain itu, menurutnya Gus Mis, larangan hoaks juga datang dari Nabi Muhammad Saw. sejak awal Nabi mengingatkan betapa fitnah itu amat berbahaya. Bahkan Nabi berpesan hingga tiga kali kepada para sahabatnya agar menjauhi hoaks. “Kalau dalam bahasa pesantrennya, tiga kali itu penting sekali,” pungkasnya.

Comments
Loading...