Kiai Anwar Zahid: Di Media Sosial Banyak Penceramah, Sedikit Ulama

ISLAMRAMAH.CO, Di era ini, media sosial menjadi pilihan hidup yang tak mungkin ditinggalkan setiap orang. Apalagi di kalangan milenial, medsos tampak tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga kebutuhan hidup sehari-hari. Hal itu juga berpengaruh pada cara beragama masyarakat mutakhir. Banyak penceramah muncul di media sosial. Walakin, tidak semua penceramah di media sosial memiliki keilmuan yang luas yang layak disebut sebagai ulama. Sebab, keilmuan seseorang tidak bisa diverifikasi hanya melalui untain kata-kata indah di media sosial.

Selaras dengan hal itu, menurut Kiai Anwar Zahid, kenyataan hidup mutakhir sebenarnya telah diramalkan jauh sebelumnya oleh Nabi Muhammad Saw. Menurutnya, Nabi pernah mengatakan bahwa akan ada suatu zaman di mana banyak seseorang mampu menghipnotis ribuan ummat melalui untaian kata-kata indah. Akan tetapi, mereka sebenarnya tidak memiliki ilmu yang luas, alias dangkal. “Sudah dikhawatirkan Kanjeng Nabi Muhammad bahwa zaman akhir nanti banyak tukang pidato, tapi sedikit ulama,” katanya sebagaimana dalam ceramahnya di akun Instagram Ulama Nusantara.

Kiai kondang yang ceramah-ceramahnya kerap mengandung humor itu juga menjelaskan bahwa cukup sulit untuk membedakan antara ulama dan orang-orang yang hanya mahir berceramah di media sosial. Banyak orang yang sebenarnya bukan ulama, tetapi terlanjur disebut sebagai ulama karena pengaruh media sosial. “Apalagi sekarang ustad internet, ustad Youtube, ustad medsos. Mohon maaf, kadang bukan ulama sungguhan, tetapi sudah terlanjur dipanggil ulama,” jelasnya.

Kiai Anwar Zahid menyayangkan banyak ummat yang mudah terpengaruh oleh untaian kata-kata indah yang seolah-olah menunjukkan kemahiran dalam beragama. Bahkan yang lebih memprihatinkan, tidak sedikit yang mulai meninggalkan guru-guru agama mereka yang mendidiknya dan mengajari ilmu-ilmu agama sejak kecil. “Sekarang kamu ikuti model begitu? Hingga kamu melupakan kiaimu yang mengajari dasar-dasar agama. Yang mengajari kamu tata cara wudhu dan shalat,” tuturnya.

Karena itu, Kiai Anwar menyarankan agar tetap berpegang teguh kepada para ulama-ulama pesantren. Hal itu selain otoritas keilmuannya jelas, juga sebagai bentuk rasa ketakdziman atau kepatuhan pada guru-guru agama mereka sejak masa muda. “Kamu lebih mengidolakan yang baru kamu kenal di medsos. Padahal kamu belum tau kapasitas keilmuannya, kepribadiannya, dan akhlaknya,” tegasnya.

Comments
Loading...