ISLAMRAMAH.CO, Polemik mengenai Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali menjadi perbincangan publik. Pada momentum Hari Santri Nasional, terdapat bendera HTI yang dikibarkan di tengah-tengah upacara Hari Santri di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hal itu menimbulkan polemik dan masyarakat merespon provokasi itu dengan membakarnya.

Menyikapi hal itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengatakan, tidak ada ulama yang menganggap baik menulis kalimat tauhid atau kalimat Al-Quran di bendera. Hal itu karena dikhawatirkan bisa menodai kesucian kalimat tauhid itu sendiri. Bukan hanya berlaku untuk HTI saja, tetapi bagi siapapun, hendaknya tidak sembarangan menulis kalimat tauhid agar kalimat tauhid itu terjaga kesuciannya.

“Tidak ada ulama yang menganggap baik menulis kalimat tauhid, Al-Quran di bendera. Siapapun. Bukan hanya HTI. Semuanya. Tidak ada ulama yang anggap baik menulis kalimat tauhid di bendera karena takut kita tidak mampu menghormatinya,” kata Kiai Said di PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (24/10).

Menurut Kiai Said, bendera yang digunakan HTI dan ISIS sama sekali bukan bendera Rasulullah ataupun bendera para sahabat Nabi. Bendera HTI maupun ISIS amat berbeda dengan bendera Rasulullah. HTI dan ISIS kerapkali menggunakan simbol agama untuk mengelabuhi ummat dalam misi besarnya menolak NKRI dan Pancasila.

“Bahwa bendera yang dibawa HTI itu bukan bendera Rasulullah, bukan juga bendera khulafaur rasyidun (khalifah). Yang jelas bendera Rasul tidak seperti bendera HTI, ISIS, dan Al-Qaeda,” pungkasnya.

%d blogger menyukai ini: