ISLAMRAMAH.CO, Ketua Umum Pengusus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj mengimbau warga NU agar tidak diam terhadap pihak-pihak yang melakukan propaganda di media sosial. Hal itu karena akhir-akhir ini banyak sekali konten yang mengandung narasi kebencian, yang menyudutkan amalan maupun cara berpikir kaum Nahdliyin dan tradisi keagamaan khas umat Islam Indonesia. Tidak hanya itu, narasi kebencian itu dibungkus sedemikian rupa dengan kebohongan (hoaks) yang membuat umat terbecah belah.

Menurut Kiai Said, sebagai kader pesantren yang memiliki sanad keilmuan yang terhubung kepada Nabi, tidak perlu minder dan takut menghadapi kelompok radikal di media sosial. Kelompok radikal memang menjadikan media sosial sebagai medium untuk memecah belah ummat. “Nahnu ashabul haq (kebenaran) yang memiliki sanad atau rantai keilmuan yang terhubung kepada Nabi Muhammad Saw,” kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat (18/10).

Umat Islam Indonesia menurut Kiai Said adalah pengikut Imam Syafi’i, maka seharusnya harus bangga dan tidak takut menghadapi narasi kaum radikal. Bahkan orientalis pun menganggap Imam Syafi’i sebagai tokoh yang jenius karena berhasil menggabungkan antara nash (dalil tekstual) dan akal. “Orientalis pun menganggap Imam Syafi’i jenius, penggagas ushul fiqh. Menggabungkan antara nash dan akal. Kita pengikut Imam Syafi’i harus bangga, nahnu ashabul haq, jangan minder,” ucapnya.

Sejak KH Hasyim Asy’ari mendendangkan diktum hubbul wathan minal iman, mencintai Tanah Air bagian dari keimanan, maka tidak ada problem antara Islam dan kebangsaan atau nasionalisme. Oleh karena itu, jika narasi-narasi kebencian terhadap NKRI atau Pancasila mewarnai media sosial, maka sejatinya itu merupakan upaya untuk memperlemah kebangsaan dan keislaman ala ahlussunnah wal jamaah di Indonesia. “Kita sudah mengharmoniskan antara agama dan nasionalisme, tidak lagi berhadapan antara agama dan nasionalisme,” pungkasnya

%d blogger menyukai ini: