ISLAMRAMAH.CO, Empat pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,NKRI,dan Bhinneka Tunggal Ika adalah prinsip dasar yang merepresentasikan alur perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara. Keberadaan empat pilar tersebut bersifat final dan tidak bisa ditawar lagi karena jika ke empat pilar tersebut goyah maka keutuhan Indonesia pun akan terancam.

Hal tersebut disampaikan mantan Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin dalam video ceramahnya yang diunggah di Youtube saat mengisi sebuah acara di Jakarta. Menurutnya, hubungan antara agama dan negara sebenarnya sudah selesai dibahas secara politis saat Indonesia merumuskan dan menetapkan Pancasila, Undang-Undang 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Artinya hubungan agama dan negara, hubungan Islam dan negara itu sudah selesai dalam pembentukan itu dengan lahirnya empat pilar itu,” ujar Kiai Ma’ruf.

Namun, lanjut Kiai Ma’ruf, negara menjadi gaduh kembali setelah akhir-akhir ini muncul sekelompok orang yang menganut paham radikal. Baik itu radikalisme agama maupun radikalisme sekuler. “Gaduh lagi itu setelah adanya kelompok radikalisme,” ujarnya.

Ia menuturkan, kelompok radikalisme agama, khususnya dari kalangan umat Islam, muncul lantaran salah dalam memaknai jihad saat terpengaruh arus globalisasi. Menurutnya, kelompok tersebut hanya memaknai jihad dengan perang. “Padahal jihad itu tidak hanya diartikan perang qitalan kalau dalam situasi perang, tapi juga berartiishlahan, yaitu perbaikan kalau dalam situasi damai,” kata ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut.

Menurutnya, telah terjadi distorsi pemaknaan jihad atau pemahaman agama di kalangan kelompok radikalisme tersebut. Selain itu, Kiai Ma’ruf menyebut, mereka juga kerap menganggap seluruh dunia ini adalah wilayah perang. Padahal para ulama tidak sepakat terkait pemahaman seperti itu.

Ia menjelaskan, Indonesia atau negara lain bukanlah wilayah perang tapi darussalam, yaitu wilayah damai, wilayah kesepakatan, atau wilayah kesepakatan antara banyak pihak termasuk antara Muslim dan non-Muslim. “Karena itu hubungan Muslim dan non-Muslim di Indonesia hubungannya adalah saling berjanji untuk hidup secara damai. Karena itu kemudian, kalau menganggap di sini (Indonesia) wilayah perang muncullah terorisme itu, yang menurut mereka terorisme adalah jihad. Padahal tidak,” katanya.

Kiai Ma’ruf menambahkan, radikalisme sejak awal memang tidak ada komitmen kebangsaan. Karena mereka tidak pernah terlibat langsung dalam pembangunan bangsa ini.

“Termasuk kelompok radikalisme sekuler, yang selalu berupaya untuk melakukan sekularisasi Pancasila dengan memisahkan antara agama dan negara. “Padahal dalam Pancasila keduanya adalah satu kesatuan,” pungkas ulama asal Banten tersebut.

%d blogger menyukai ini: