ISLAMRAMAH.CO, Islam telah memberikan koridor sedemikian mudah dalam berdakwah, yaitu dengan menebar perdamaian, bersikap ramah dan toleran, serta tidak memunculkan sikap kebencian. Meskipun demikian, ada saja sebagian pendakwah yang belum memahami esensi dakwah dalam Islam. Tak jarang di mimbar-mimbar masjid muncul ujaran kebencian dan caci maki, apalagi dakwah di dalam media sosial yang kian hari makin tak terkontrol.

Menyikapi hal itu, masyarakat dihimbau agar selektif dalam memilih penceramah atau pendakwah. Hal itu penting karena dakwah erat kaitannya dengan masa depan agama Islam. Apabila dakwah yang dilakukannya lebih banyak menimbulkan keburukan, maka tentu akan berdampak negatif terhadap agama Islam. Sebaliknya, apabila dakwah yang disampaikan mengandung nilai-nilai kebaikan dan toleransi, maka agama Islam akan lebih diterima oleh masyarakat.

“Masyarakat dimohon agar selektif dalam memilih dai. Mana dai yang layak dijadikan panutan dan mana yang tidak,” kata pengurus LD PBNU, Ustadz Muhammad Imaduddin di Jakarta, Senin (1/10).

Ustad Imaduddin, dalam sejarahnya, Nabi tidak pernah berdakwah yang mengandung ujaran kebencian, apalagi mencaci maki. “Nabi dalam berdakwah tidak ada caci maki, tidak ada ujaran kebencian,” ucapnya.

Ustad Imaduddin juga mengigatkan, bahwa dalam sejarahnya tidak pernah dakwah berhasil jika menggunakan cara-cara yang tidak benar dan tidak dibenarkan oleh agama. “Dalam sejarah, tidak ada dakwah yang sukses yang berisi caci maki,” pungkasnya.

%d blogger menyukai ini: