Menjadi imam shalat hendaknya mengetahui situasi dan kondisi makmumnya. Apabila makmumnya terdiri dari orang-orang sepuh dan lemah, maka tidak perlu memperpanjang bacaan al-Quran di dalam shalatnya.

Pernah kejadian, ada seorang imam shalat dan kerapkali membaca surat atau ayat-ayat al-Qur’an dengan panjang, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan jamaahnya.

Suatu kali, sang imam itu mengimami shalat isya dengan sangat lama. Akibatnya, makmum menjadi ribut. Kemudian sebagian mereka protes, “Setelah ini tinggalkan masjid kami. Kami akan mencari penggantimu karena selama ini shalatmu selalu panjang. Sedangkan di belakangmu ada orang tua, orang lemah, dan orang-orang yang masih banyak urusan,” ujarnya.

Kemudian sang imam berkata, “Baiklah, ke depan saya tidak akan memanjangkan bacaan shalat lagi.” Ujar sang imam, menanggapi makmum yang protes.

Keesokan harinya, ia kembali menjadi imam salat. Setelah bertakbir dan membaca surat al-Fatihah, ia terdiam dan tampak berpikir lama sekali. Tiba-tiba, sang imam berteriak kepada makmum di belakangnya, “Bagaimana menurut kalian kalau saya membaca surat ‘Abasa?”

Seluruh jamaah salat tetap diam. Karena makmum tampak diam dan khusu’, sang imam kembali berteriak melontarkan pertayaan, “Bagaimana, kepanjangan tidak?”

Para makmum pun tetap saja diam, kecuali seorang tua berjenggot panjang dan berjidat hitam, menanggapinya, “ya bagus itu, baca surat itu aja,” katanya.

%d blogger menyukai ini: