Indonesia merupakan negara multikultural. Ada sekian banyak etnik, bahasa, dan budaya di Indonesia, bahkan agama yang dianut oleh masyarakat pun berbeda-beda.

Meskipun beragam, Gus Dur kerapkali meminta masyarakat agar beragama tidak kaku dan tidak mudah marah. Sebaliknya, Gus Dur ingin beragama dengan rukun dan saling menebar kebahagiaan.

Pernah suatu ketika, seorang pendeta Hindu, pastur Katolik, dan Gus Dur terlibat diskusi tentang siapa di antara tiga agama itu yang paling  dekat dengan Tuhan.

“Kami, dong!,” kata pendeta Hindu.

“Kok kalian bisa merasa paling dekat dengan Tuhan?” tanya Gus Dur.

“Lha, iya. Lihat saja, kami memanggil-Nya saja Om,” jawab si pendeta Hindu, merujuk seruan religius Hindu: Om, shanti, shanti, Om.

“Ooh, kalau alasannya itu, kami dong yang lebih dekat,” sergah si pastur Katolik. “Lihat saja, kami memanggil-Nya Bapa. Bapa kami yang ada di surga…”ujarnya.

Gus Dur diam saja. Lalu kedua teman bicaranya itu bertanya, “Kalau Gus Dur, sedekat apa hubungannya dengan Tuhan?”

“Adduh, boro-boro dekat,” jawabnya. “Manggil-Nya saja dari menara, pake toa, teriak-teriak lagi!,” seloroh Gus Dur.

%d blogger menyukai ini: