ISLAMRAMAH.CO, Maka celakalah, binasalah, atau masuklah ke nereka Jahanam, seperti kata as-Syarbini, orang bodoh yang tidak pernah mencari ilmu walaupun sekali sepanjang hayatnya. Celakalah seribu kali bagi orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya. Dalam redaksi lain disebutkan, “Celakalah 70 kali bagi orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya.”

Kata “seribu kali” di atas ditekankan bagi orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana kata “sekali” yang ditujukan kepada orang yang tidak pernah mencari ilmu. Inilah pemahaman yang lebih jelas dan lebih baik. Akan tetapi, tidak ada halangan untuk memahami bahwa kedua belah pihak; orang bodoh yang tidak pernah menuntut ilmu dan orang berilmu yang  tidak mengamalkan ilmunya, berdasarkan dengan redaksi “celaka” dalam pengertian “binasa”, bukan dalam pengertian “masuklah ke nereka jahannam.”

Dalam pengertian ini, azab orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya lebih berat dari azab orang bodoh yang tidak pernah berusaha mencari ilmu. Memang benar, hal itu diukur berdasarkan satuan bilangan, bukan jeniz azab. Sehingga, bisa jadi azab yang hanya sekali itu lebih keras daripada seribu kali. Lagi pula, jika orang berilmu (‘alim) meninggalkan perkara wajib atau melakukan perkara haram sehingga Allah menurunkan azab atas dirinya, boleh jadi azab itu bertujuan untuk menyucikan dirinya. Demikian penjelasan sebagian ulama.

Sejalan dengan makna yang dimaksud di atas maka dapat dipahami bahwa malaikat Zabaniyah (malaikat penyiksa) menyiksa orang-orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya sebelum menyiksa para penyembah berhala. Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa orang alim itu adalah kekasih Allah, walaupun dia fasik, dan orang bodoh itu musuh Allah meskipun ia ahli ibadah.

Suatu ketika beberapa orang berselisih pendapat tentang keutamaan orang alim yang fasik dan keutamaan orang bodoh yang ahli ibadah. Kemudian pergilah salah seorang dari mereka mendatangi kuil ahli ibadah yang bodoh. Sesampai di kuil, ia berkata, “Wahai hambaku, aku telah mengabulkan doamu dan mengampuni dosa-dosamu, maka janganlah engkau beribadah lagi, beristirahatlah!”

Syahdan, mendengar suara itu, ahli ibadah yang bodoh itu pun menjawab, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya inilah yang aku harapkan dariMu. Aku telah memujiMu, bersyukur kepadaMu, dan menyembahMu sekian lama.”. Maka kebodohan itu membawanya kepada dosa dan kekufuran.

Sebagian dari mereka yang berselisih itu mendatangi seorang oralim yang fasik, dan mendapati si alim itu sedang minum khamr. Kata mereka, “Wahai hambaku, takutlah kepadaKu. Aku adalah Tuhanmu yang mengampuni dosa-dosamu, tetapi engkau tidak malu kepadaKu, maka Aku berkehendak untuk membinasakan dirimu!”

Si alim yang fasik itu bangkit dari tempatnya seraya menghunus pedang dan berkata: Wahai yang terlaknat, engkau tidak tahu menahu tentang Tuhanmu, sekarang akan kuberitahukan kepadamu siapa Tuhanmu!” Orang itu berlari dari hadapan si alim fasik, dan mengertilah ia kini keutamaan ilmu dan orang yang berilmu.

%d blogger menyukai ini: