ISLAMRAMAH.CO, Indonesia dikenal sebagai negeri multikultural. Beragam suku, ras, budaya, bahasa bahkan agama bisa ditemukan di Indonesia. Semua itu menjadikan Indonesia sebagai miniatur kehidupan manusia di dunia. Bahkan Bung Karno menyebut Indonesia sebagai taman sari bagi dunia. Maka dari itu, perbedaan tidak hanya menjadi keniscayaan di Indonesia, tetapi juga merupakan jati diri bangsa Indonesia.

Keragaman yang tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia telah menjadikan masyarakat Indonesia sebagai orang-orang yang toleran dan menghargai segala bentuk perbedaan. Tak hanya perbedaan dalam pendidikan, budaya, dan agama, melainkan juga dalam pilihan politik. Bagi Indonesia, perbedaan merupakan rahmat dan anugerah Tuhan yang tak semua dimiliki negara-negara lain di dunia.

Dalam kaitannya dengan perbedaan itu, Kiai sepuh Nahdlatul Ulama, Kiai Maemun Zubair, menyatakan bahwa perbedaan menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Justru jika semua diseragamkan, maka akan menjadi bencana.“Perbedaan itu biasa. Kalau semua sama itu malah bahaya,” jelas Kiai yang akrap disama Mbah Moen itu dalam ceramahnya di Youtube.

Mbah Moen merasa heran, mutakhir ini masyarakat kerapkali terjebak pada kekakuan dalam pilihan politik. Masing-masing pendukung merasa pilihannya paling benar dan merendahkan pilihan yang lain. Padahal sikap semacam itu justru bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbiasa dengan perbedaan.

Maka dari itu, sejatinya masyarakat Indonesia menghidupkan kembali ruh pluralitas bangsa dengan bersikap wajar terhadap perbedaan, termasuk perbedaan dalam pilihan politik. Jangan sampai muncul perpecahan dan konflik sosial hanya karena menyangkut perbedaan politik. Perbedaan harus menjadi kekuatan bangsa, dan bukan justru menjadi kelemahan yang bisa mematikan spirit persatuan dan kesatuan.

%d blogger menyukai ini: