ISLAMRAMAH.CO, Saat ini sebagian umat Islam dari berbagai negara tengah menunaikan ibadah haji di Baitullah, Mekkah. Ibadah ini merupakan puncak dari rukun Islam yang berarti setiap orang yang telah menunaikan ibadah haji, secara otomatis memiliki tugas mulia untuk menampilkan Islam yang mendamaikan sesuai makna Islam itu sendiri. Setelah menunaikan ibadah haji bukan berarti puncak kewajiban sebagai umat Islam itu selesai, akan tetapi ia harus mencerminkan pribadi yang shaleh baik secara spiritual maupun secara sosial.

Karena itu menurut Prof Dr Kiai Said Aqil Siroj, seseorang yang telah menunaikan ibadah haji harus menampilkan pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Ia harus meninggalkan keburukan lama dan menatap hari-hari yang akan datang dengan spirit berbagi dan solidaritas tinggi terhadap lingkungan sosial. Sang haji tidak pantas mendapatkan gelar haji jika ia masih bakhil terhadap fakir miskin. “Tidak pantas pak haji pelit, bakhil ke fakir dan miskin. Malu dong kalau pribadinya tidak ada perbaikan diri,” kata Kiai Said di Gedung PBNU, Selasa (21/8).

Selain harus mencerminkan perilaku individu yang baik, sang haji juga harus menampilkan kesalehan sosial di tengah-tengah masyarakat. Menurut Kiai Said, di Indonesia khususnya, seorang haji biasanya dihormati dan memiliki status sosial baru, karena itu ia harus bisa membanggakan umat, bangsa, negara dan agama. Ia juga harus menjadi teladan dan memberi manfaat kepada orang banyak. “Jadi kebanggaan (panggilan) ini harus diimplementasikan dalam perilaku yang bisa dibanggakan,” tegas Kiai pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur itu.

Melalui kombinasi spirit kesalehan spiritual dan kesalehan sosial itu sang haji akan kembali ke negerinya sebagai orang yang mencapai puncak keimanan. Mereka kembali ke negeri dan desa masing-masing untuk menjadi teladan dan memberi manfaat bagi orang lain. Termasuk senantiasa melaksanakan kebaikan, kesetiaan dan membatasi diri dari berbagai kesenangan dalam hidup.

%d blogger menyukai ini: