ISLAMRAMAH.CO, Kiai Ma’ruf Amin dikenal sebagai ulama penjaga Pancasila. Sejak usia muda, ia menjadikan Pancasila sebagai way of life atau jalan hidup. Kesetiaan kepada Pancasila terus dipegang teguh sampai saat ini, bukan hanya dihafalkan semata, tetapi juga diamalkan, sehingga tidak salah jika Presiden Jokowi memilih Kiai Ma’ruf sebagai Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi pancasila). Bagi Kiai Ma’ruf, Pancasila sebagai dasar negara sudah final dan harus dijaga.

Kita tahu, dalam dua dekade terakhir, popularitas Pancasila mulai meredup. Masyarakat seperti sudah tidak mengenal lagi Pancasila, termasuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mulai muncul gerakan radikal yang melawan Pancasila. Maka menurut Kiai Ma’ruf, kini saatnya mereka yang sudah mulai lupa diingatkan, dan mereka yang mau meninggalkan ditarik kembali. Perilaku Pancasila perlu kembali diteguhkan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Kiai Ma’ruf begitu prihatin terhadap kecenderungan gerakan yang mengancam eksistensi Pancasila. Di antaranya adalah kecenderungan radikalisme yang kian bergerak bebas, termasuk radikalisme yang diimpor dari Timur Tengah. Munculnya terorisme yang membawa bendera mendirikan negara Islam dan gerakan terselubung lainnya yang tidak sejalan dengan ideologi Pancasila mulai menguat. Karena itu dalam pandangan Kiai Ma’ruf, ancaman semacam itu harus dicegah melalui penguatan pemahaman Pancasila.

Tidak hanya masalah radikalisme semata yang membuat Kiai Ma’ruf prihatin, melainkan juga nilai-nilai toleransi yang terkandung dalam Pancasila terkoyak ketika agama dijadikan alat politik. Munculnya kelompok intoleran yang melenceng dari Pancasila telah membuat suasana damai antarumat beragama terusik. Bagi Kiai Ma’ruf, perbedaan agama di Indonesia sudah tidak perlu didiskusikan lagi, yang penting adalah bagaimana menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap toleran.

Sebaliknya, toleran jangan dipolitisasi dan jangan dipelintir. Kiai Ma’ruf perlu mengingatkan dan meluruskan hal itu ketika berlangsung kampanye Pilkada DKI Jakarta merebak suara-suara yang mengatakan ‘kalau tidak menerima calon nonmuslim tidak pancasilais, bukan pula kelompok bhineka tunggal ika’. Toleran menurut Kiai Ma’ruf tidak diartikan sempit semacam itu, justru pernyataan seperti itu tidak pancasilais karena memperuncing suasana.

Persoalan lain adalah kesenjangan ekonomi yang sepertinya terabaikan sehingga menciptakan ketimpangan sosial yang rawan dieksploitasi untuk kepentingan politik praktis. Masalah kesenjangan ekonomi yang seharusnya sudah terselesaikan jika pemerintah taat mengamalkan sila kelima, turut menjadi perhatian Kiai Ma’ruf. Karena itulah Kiai Ma’ruf menawarkan pemikiran ‘Arus Baru Ekonomi Indonesia’ yang tak lain adalah mengamalkan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Melihat kecenderungan terlupakannya Pancasila itu, Kiai Ma’ruf berpikir untuk menggali kembali nilai-nilai Pancasila agar bisa dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Perlu cara yang bukan bersifat doktrin seperti masa Orde Baru dulu, tetapi strategi yang lebih membumi yang mudah diterima masyarakat, terutama generasi milenial yang memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat kehidupan bernegara. Menurut Kiai Ma’ruf, Pancasila harus dikembalikan sebagai sumber dari segala sumber hukum.

Sebagai dewan pengarah BPIP, Kiai Ma’ruf kemudian menyampaikan pemikirannya tentang penerapan Pancasila dalam berkehidupan. Pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, berarti tidak boleh ada orang yang tidak bertuhan di negara ini. Kemudian pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, kita harus memperlakukan semua manusia dengan adil dan beradab, bahkan bukan hanya di negara sendiri, tetapi juga dengan dunia internasional. Maka ketika Amerika Serikat mengumumkan Jerussalem sebagai Ibu Kota Israel, Kiai Ma’ruf langsung memimpin Aksi Bela Palestina di Monas pada 17 Desember 2017.

Pada sila ketiga, Persatuan Indonesia, dengan begitu mejemuknya Indonesia, tantangannya adalah menjaga komponen bangsa secara utuh dan bersatu. Toleransi menjadi salah satu kata kunci. Bagi Kiai Ma’ruf, kelompok yang intoleran tidak perlu ditoleransi. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmah Permusyawaratan Perwakilan, berarti kedaulatan ada di tangan rakyat sehingga tidak boleh ada pemerintahan yang otoriter, diktator dan anarkis. Kemudian sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia harus diterjemahkan dalam kebijakan ekonomi yang prorakyat.

Pendirian Kiai Ma’ruf untuk berpegang teguh kepada Pancasila itu adalah sikap hormatnya terhadap keputusan ulama terdahulu dalam merumuskan kemerdekaan. Sebagaimana menurut ulama-ulama perumus Pancasila, Kiai Ma’ruf juga sependapat bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, sehingga menjadikan Pancasila sebagai dasar negara tidak perlu diperdebatkan. Bahkan menurut Kiai Ma’ruf, Pancasila merupakan esensi ajaran Islam.

“Agama dan Pancasila tidak bertentangan, saling mengisi. Dalam ajaran Islam, sudah ada semua. Kemanusiaan, persatuan, keadilan sosial, kerakyatan, permusyawaratan, apalagi ketuhanan nomor satu. Lima sila bagi Islam, itu sudah semua. Bahkan ketuhanan yang Maha Esa disebutnya kan berkat rahmat Allah Swt. Jadi Tuhan, Allah Swt. Itu satu kesatuan. Bagi Islam itu pas betul,” kata Kiai Ma’ruf di Istana Negara, sesaat setelah dilantik menjadi dewan pengarah BPIP.

Begitu halnya dengan Bhineka Tunggal Ika. Menurut Kiai Ma’ruf, kemajemukan agama di Indonesia adalah keniscayaan sehingga tidak memungkinkan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, yang penting nilai-nilai keislaman tercermin dalam dasar negara. Ketika Pancasila sebagai dasar negara telah mampu mewadahi semua unsur dalam Islam dan tidak bertentangan dengan Islam, maka Pancasila wajib diterima semua golongan.

Sikap Pancasilais Kiai Ma’ruf itu membuat anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) Sidarto Danusubroto begitu takjub dan tidak meragukan jiwa pancasilais yang melekat pada Kiai Ma’ruf Amin. “Saya kaget ketika diundang di Gondanglegi Malang untuk tausiyah, beliau bicara dulu tentang Pancasila, radikalisme. Lalu diajak ke Tulungagung, beliau menyampaikan ayat-ayat tentang hubbul wathan minal iman atau mencintai Tanah Air manifestasi dari iman. Kalau beliau bicara begitu kelihatan sekali, negara menyatu jika Pancasila sebagai dasar negara,” kata Sidarto.

Begitu juga dengan tokoh-tokoh agama lain yang begitu kagum dengan sikap Pancasilais Kiai Ma’ruf.  Romo Benny Susetyo, salah seorang pastor Katolik yang kini penasehat eksekutif BPIP, tidak meragukan jiwa kenegarawanan Kiai Ma’ruf amin. “Di situ saya melihat Kiai Ma’ruf sangat menjunjung tinggi Pancasila dan kebhinekaan, tidak mementingkan golongan dan kelompoknya, melainkan menomorsatukan kepentingan bangsa,” kata Romo Benny yang dikenalkan kepada Kiai Ma’ruf oleh Gus Dur pada tahun 1990-an.

%d blogger menyukai ini: