ISLAMRAMAH.CO, Dalam suatu diskusi di Yogyakarta, Presiden World Conference on Religion for Peace (WRCP), Buya Syafii Maarif mengingatkan kepada setiap muslim agar tidak gegabah menganggap bahwa setiap budaya Arab pasti sesuai dengan ajaran Islam. Menurut Buya Syafii, setiap ajaran Islam pasti mengandung nilai kebajikan. Namun demikian, berbeda dengan budaya Arab atau Arabisme yang memiliki dua kemungkinan, yaitu Arabisme yang baik dan Arabisme yang sesat.

Cendekiawan Muslim tersebut menilai, Arabisme yang sesat hanya fokus kepada ritualnya saja, namun menafikkan substansi yang terkandung di dalamnya. Ritual semacam itu dapat menjauhkan umat Islam dari intisari ajaran Islam itu sendiri. Sebagai contoh, mengatasnamakan agama tetapi di sisi lain memakai jalan kekerasan, maka tentu saja potret seperti ini menujukkan betapapun semarak ibadah ritual yang dilaksanakan, namun sejatinya sangat kering dari nilai substansi Islam.

“Ada Arabisme yang baik dan yang tersesat. Arabisme yang tersesat hanya fokus pada bentuk atau ritual, bukan internalisasi atau substansi,” terang pendiri Maarif Institute tersebut.

Tokoh terkemuka yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah tersebut menegaskan pentingnya memahami perbedaan antara budaya Arab dan Islam. Jangan sampai yang kita anggap sebuah tradisi Islam, namun ternyata tradisi itu adalah budaya Arab yang menyesatkan. “Agama dipakai tidak untuk mengarahkan pemeluknya kepada hal-hal yang lebih baik. Orang memakai tasbih saja seakan-akan sudah Islam. Ini pembodohan,” tegas cendekiawan Muslim asal Padang tersebut.

%d blogger menyukai ini: