ISLAMRAMAH.CO, Agama merupakan pedoman hidup dan sumber kedamaian, karena itu agama harus menjadi alat pemersatu bagi setiap umat. Akan tetapi, dalam realitas akhir-akhir ini, agama kerapkali dijadikan sebagai alat politik untuk memecah belah karena adanya konflik kepentingan di tingkat elite politik. Nilai-nilai Islam yang luhur seperti kejujuran, saling menghormati dan perdamaian mulai diabaikan hanya karena ulah kepentingan segelintir orang.

Putri kedua Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid, menyayangkan penggunaan agama semacam itu, yaitu menjadikan agama sebagai alat untuk tujuan politik praktis. Yenny menilai, agama tidak boleh disalahkan, karena tidak semua konflik yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh agama, melainkan oleh orang yang menggunakan agama untuk kepentingan tertentu.

“Saya tidak percaya bahwa agama itu adalah alat pemecah belah. Yang memecah belah bukan agamanya tapi orang yang mengunakan agama untuk kepentingan mereka,” ujar perempuan lulusan Universitas Harvard, Amerika itu.

Aktifis perempuan yang pernah menjadi koresponden koran terbitan Autralia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) itu menegaskan, semua agama sejatinya mengajarkan kebaikan. Adapun konflik yang terjadi hari-hari ini karena sebagian kelompok pemeluk agama merasa pemahamannya paling benar dan cenderung menganggap pemahaman kelompok lain salah. Tentu saja cara berpikir semacam ini menjadi sumber kekacauan bagi umat beragama di Indonesia.

“Agama isinya tentang kebaikan semua, namun pemeluk agama belum sempurna semua. Ada pemeluk agama yang justru sangat dogmatik mengangap agamanya dijadikan sebagai alat untuk mengangap dirinya paling superior, yang lainya diangap kafir. Jadi intinya bukan agama yang pemecah belah tapi attitude kita mengenai agama, yakni orangnya,” tegas Direktur The Wahid Foundation itu.

%d blogger menyukai ini: