Abdullah bin Abbas dikenal sebagai pakar tafsir setelah Rasulullah Saw meninggal. Selain itu, ia juga dikenal sebagai ahli fikih terkemuka. Para sahabat tidak meragukan kemampuannya dalam ilmu tafsir dan fikih karena memang dia adalah salah seorang sahabat belia yang mendapatkan pendidikan langsung dari Rasulullah Saw.

Alkisah, pernah suatu hari datang kepada Abdullah bin Abbas seorang anak muda yang baru menikah. Anak muda itu mengajukan sebuah pertanyaan, “Wahai sepupu Rasulullah, bolehkan aku mencium istriku saat sedang berpuasa? “Tidak boleh!” jawab Abdullah bin Abbas tegas.

Pemuda itu tampak kecewa. Dia masih ingin bertanya, tapi ada seorang lelaki tua yang datang. Pemuda itu menunggu sejenak. Dan setelah berbasa-basi, lelaki tua itu bertanya kepada Abdullah bin Abbas, “Wahai putra Abbas, apakah aku boleh mencium istriku ketika aku sedang berpuasa?” Boleh, “Jawab Abdullah bin Abbas.

Mendengar jawaban tersebut, pemuda tadi bergegas maju dan memprotes, “Wahai sepupu Rasulullah! Bagaimana Anda ini! Anda halalkan buat dia sesuatu yang Anda haramkan buat saya?”

“Saudaraku, kau masih terlalu muda, nafsu birahimu masih bergejolak. Sedangkan Bapak ini sudah tua, “Jawab Abdullah bin Abbas sembari tersenyum. Pemuda itu pada akhirnya mengerti maksudnya.

%d blogger menyukai ini: