ISLAMRAMAH.CO – Seorang waliyullah biasanya memiliki karamah yang diberikan langsung oleh Allah SWT sebagai bentuk keistimewaan karena hubungannya yang begitu dekat dengan Allah. Salah satu ulama yang terkenal karena karamahnya adalah Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Ia dikenal sebagai ulama besar yang memiliki keilmuan yang luas dan berpengaruh di Timur Tengah dan di Indonesia.

Salah seorang santri senior Abuya yang bernama Shaleh al-Habsy, yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, seringkali mengirimkan bacaan surah al-Fatihah kepada para guru yang telah berjasa mengajarkan ilmu-ilmu agama kepadanya, terutama guru utamanya yakni Abuya itu sendiri. Dalam kebiasaan umum, sudah sepantasnya seorang santri membalas jasa guru-gurunya dengan senantiasa membacakan doa kebaikan.

Pada suatu malam, Shaleh al-Habsyi dengan khusyuk membaca doa, wirid, dan mengirimkan bacaan al-Fatihah untuk Abuya As-Sayyid Muhammad. Setelah doa selesai dibaca ia ingin melanjutkannya dengan shalat sunnah. Namun tak disangka, ketika ia hendak berdiri tiba-tiba ia tersungkur ke depan, seperti ada seseorang yang menendang dari belakang. Ia menoleh ternyata hadir sosok Abuya. Shaleh pun terkejut sangat terheran.

Sebagaimana lazimnya akhak seorang santri terhadap kiai, ia segera duduk dengan sikap takdzim dan sopan. Kemudian Abuya berkata, “Shaleh, apa kamu tidak punya rasa malu menggolongkan aku bersama dengan orang-orang mati, aku ini masih hidup.” Setelah menyampaikan pesan itu, sosok Abuya pun menghilang.

Shaleh merenungkan apa yang salah dari dirinya. Lambat laun di kemudian hari ia menemukan jawaban, bahwa ketika ia mengirimkan al-Fatihah untuk Abuya, ia mengatakan ila ruhi As-Sayyid Muhammad. Setelah kejadian itu, ia tidak lagi menggunakan kalimat ila ruhi, tetapi langsung menyebut nama As-Sayyid Muhammad. Ila As-Sayyid Muhammad Al-fatihah…

Kisah hikmah tersebut memberi kita pelajaran, bahwa begitu besar perhatian sang Wali Allah kepada santri-santrinya. Meski telah wafat, beliau senantiasa mengawasi para santri-santrinya. Para wali Allah itu sejatinya tidak meninggal, melainkan tetap hidup di luar jangkauan indera kita. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat Ali Imran: 169: Dan jangan kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, mereka itu hidup di sisi Allah, mereka mendapatkan rezeki.

%d blogger menyukai ini: