ISLAMRAMAH.CO – Aku berikhtiar untuk menulis buku Ihya’ Ulumuddin. Aku merasakan lisan ini terasa berat untuk bertutur, hingga aku teringat pada pesan Rasulullah SAW, manusia yang paling diazab Allah SWT pada Hari Kiamat adalah seseorang yang berilmu, tapi Allah tidak jadikan ilmunya itu bermanfaat (HR. Abu Hurairah).

Sungguh, kesombonganmu hanya akan menjadi penyakit yang akan menjadi duri dalam dirimu. Maka penuntun jalan adalah para ulama yang mana mereka sebagai pewaris para Nabi. Kita sedang berada di persimpangan, tatkala kita kerap dikendalikan oleh setan dan kepongahan, sehingga kita melihat sebuah kebajikan sebagai sebuah kemunkaran, dan sebaliknya sebuah kemunkaran sebagai sebuah kebajikan. Pada saat itu, ilmu agama diabaikan. Sementara itu imu yang akan mengantarkan kita ke akhirat semakin langka dan terlupakan.

Dalam suasana batin seperti itulah, saya menulis buku ini. Buku ini sebagai simbol kebangkitan agama (ihya’an li ‘ulumiddin), membuka metode para ulama terdahulu, dan sebagai obor bagi ilmu-ilmu para Nabi dan para salaf saleh.

Buku ini aku uraikan dalam empat perempat. Seperempat berisi tentang ibadah, seperempet tentang kebiasaan, seperempat tentang hal-hal yang menjerumuskan kita pada kehancuran, dan seperempat hal-hal yang dapat menyelamatkan kita.

Aku mulai buku ini dengan pembahasan tentang ilmu, karena ilmu merupakan hal yang harus dicari dan didalami. Rasulullah SAW bersabda, mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap Muslim (HR. Ibnu Majah). Aku juga memilah antara ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang dapat membawa bahaya, sebagaimana doa Rasulullah SAW, Kami berlindung kepada Allah SWT dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Adapun pembahasan seperempat ibadah terdiri dari 10 kajian: ilmu, sendi-sendiri akidah, rahasia bersuci, rahasia shalat, rahasia zakat, rahasia puasa, rahasia haji, etika membaca al-Quran, dzikir dan doa, dan urutan wirid.

Dalam seperempat kebiasaan, aku juga membedah 10 kajian: etika makan, etika nikah, hukum dalam bekerja, halal-haram, etika persahabatan, etika menyendiri, etika bepergian, mendengarkan dan merenung, amar ma’ruf nahi munkar, etika berkehidupan dan akhlak kenabian.

Pembahasan tentang seperempat hal-hal yang dapat menjerumuskan seseorang pada kehancuran juga terdari dari 10 kajian: keistimewaan hati, olahjiwa, bahaya syahwat perut dan kemaluan, bahaya lisan, bahaya marah, dengki, dan iri, cobaan dunia, cobaan harta dan kikir, cobaan jabatan dan pamer, cobaan sombong dan ujub, cobaan tipuan.
Sedangkan pembahasan mengenai hal-hal yang dapat menyelamatkan kita dari kubangan kehancuran juga terdiri dari 10 kajian: taubat, sabar dan syukur, takut dan harap, fakir dan zuhud, tauhid dan tawakal, cinta dan ridha, niat, jujur, dan ikhlas, kontrol dan muhasabah, tafakur, dan mengingat kematian.

Secara singkat saya ingin menyatakan, bahwa pembahasan empat perempat dalam buku ini hendak meletakkan dua fondasi penting: Pertama, susunan, penegasan, dan pemahaman dalam buku ini merupakan sebuah keniscayaan, karena ilmu menuju Akhirat terbagi dalam ilmu pergaulan dan ilmu penyingkapan. Buku ini akan menekankan pada dimensi ilmu pergaulan, baik secara lahir maupun secara batin. Dalam hal lahir akan fokus pada ibadah dan kebiasaan, sedangkan pada aspek batin akan menekankan pada suasana hati dan etika jiwa.

Kedua, saya memandang ada orang yang tidak takut kepada Allah SWT. Maka buku ini berusaha untuk melembutkan hati orang tersebut untuk tidak hanya sekadar sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara batin. Buku ini akan menjadi buah bagi lahirnya medis bagi hati dan jiwa, sehingga hidup kita bermakna dalam keabadian.

%d blogger menyukai ini: