HOS Tjokroaminoto, Hulu Kemerdekaan Kita

KolomHOS Tjokroaminoto, Hulu Kemerdekaan Kita

Kemerdekaan Indonesia semakin hari semakin menuju ambang senja. Tujuh puluh lima tahun, ibarat usia manusia adalah ketidakberdayaan. Tidak berdaya lagi dalam melangkah, atau pun melawan. Namun di lain sisi, senja juga diibaratkan sebagai kematangan. Matang dalam berfikir, bersiasat, dan matang dalam menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Dewasa ini, kita sebagai pemegang estafet kepemimpinan bangsa dihadapkan pada dua pilihan! Lantas, kita memilih yang mana?

Berbicara ihwal pemimpin, saya teringat satu sosok besar bangsa: HOS Tjokroaminoto. Ia hadir, amerta dalam ingatan sebelum nama-nama besar seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Tan Malaka, memenuhi ruang asmaraloka masyarakat Nusantara. Sejarah mencatat, asa kemerdekaan Indonesia lahir dari bilik-bilik rumahnya yang teduh, kemudian bermuara lewat murid-muridnya yang hebat, Bung Karno salah satunya.

HOS Tjokroaminoto lahir di Desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur tahun 1883. Ayahnya, Tjokroamiseno adalah bangsawan yang sangat disegani oleh masyarakat. Dalam tubuhnya mengalir darah Bupati  Ponorogo, Tjokronegoro. HOS Tjokroaminoto muda, tercatat sebagai lulusan akademi pamong praja Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. Sebuah sekolah bagi calon abdi negara pemerintahan kolonial Belanda.

Kiprah HOS Tjokroaminoto sebagai tokoh besar bermula saat ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai juru tulis Patih di Ngawi. Ia bertemu Haji samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1912 dan memutuskan bergabung dengan SDI. Berbekal kecerdasan dan jiwa kritisnya, lantas ia mengusulkan agar SDI diubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). Serta menebarkan sayap tidak hanya dalam sektor perdagangan, tetapi juga sosial-politik. Usulan HOS Tjokroaminoto pun diterima.

Pada tanggal 10 September 1912 Sarekat Islam pun berdiri dengan Haji Samanhudi sebagai ketua dan Tjokroaminoto sebagai komisaris. Dua tahun sesudahnya Tjokroaminoto dinobatkan sebagai pimpinan tertinggi SI. Berkat semangat perjuangannya terhadap rakyat jelata dan tangan dinginnya, terbukti SI dapat menjadi organisasi massa terbesar pada zamannya. Tidak tanggung-tanggung sejak 1912-1919, SI memiliki anggota dua juta lima ratus ribu dari berbagai pelosok negeri.

Dikisahkan Mas Marco dalam bukunya Student Hidjo, tatkala SI mengadakan perkumpulan di Solo, berdatangan orang-orang dari pelosok negeri. Andong-andong disewanya sebagai alat transportasi, tidak ada andong yang tidak disewa. Semua mengibarkan bendera SI. Haji Agus Salim, sekaligus sahabat Tjokroaminoto yang merupakan Intelektual Minang, dengan verbal mengungkapkan kekagumannya kepada Tjokroaminoto. Menurut ia, SI hanya dalam pimpinan Tjokroaminoto dapat memobilisasi puluhan ribu massa, sehingga umat menjadi kekuatan yang terstruktur.

Sejak saat itu, Tjokroaminoto terus berjuang mengukuhkan eksistensi SI, menghapus praktik-praktik diskriminasi usaha terhadap pedagang pribumi. Bersama SI, ia berusaha menggeser dominasi ekonomi penjajah Belanda dan para pengusaha keturunan China untuk para pribumi. Dan puncaknya, tatkala SI diakui secara nasional oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Keberpihakan Tjokroaminoto kepada pribumi dan rakyat jelata membuat ia tidak hanya dikenal, tetapi juga dicintai semua golongan. Walaupun, dalam dirinya mengalir darah bangsawan, lantas tidak membuatnya jumawa dan berlaku sebagaimana putra-putra bangsawan lainnya. Ia ditakdirkan lahir dan mati untuk membela rakyat, serta membawa dan menyalurkan semangat kemerdekaan.

Selain gagasannya menyuarakan kemerdekaan Indonesia, ia juga berjuang meraih kebebasan politik, serta membangunkan kesadaran hak-hak kaum pribumi yang telah lama direnggut oleh kolonialisme dan imperialisme. Ia secara intens bergerilya, membangun gerakan-gerakan penyadaran, bahwa penting memiliki sistem pemerintahan sendiri. Membangun negara dengan konstitusi yang lahir dari benih-benih pemikiran dan keberpihakkan kepada masyarakat kita sendiri.

Baca Juga  Tawakal Bukan Berarti Tak Bekerja

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fachry Ali menyatakan, sosok HOS Tjokroaminoto patut diteladani sebagai perintis munculnya organisasi-organisasi nasionalis modern dalam melawan penjajah. Ia berperan aktif sebagai pionir, pembuka jalan ke arah sistem gerakan organisasional dalam melawan penjajah, Rabu (4/2015). Terbukti, lewat tangan dingin dan asupan-asupan gagasannya, lahir tokoh-tokoh besar bangsa, seperti Bung Karno, Semaoen, Alimin, Muso, Kartosuwiryo, yang kemudian membawa Indonesia menuju kemerdekaan yang absolut.

Bung Karno, yang merupakan murid sekaligus mantan menantunya menyatakan, bahwa “Tjokroaminoto adalah salah satu guru saya yang amat saya hormati, kepribadiannya dan Islamisme-nya sangat menarik hati saya”. Tidak terelakkan, sosok besar Bung Karno dalam pergerakan, perjuangannya meraih kemerdekaan Indonesia, tidak lain adalah dari cerminan sosok Tjokroaminoto. Dari Tjokroaminoto, Bung Karno belajar tentang dunia.

Sebagai tokoh besar, guru para pendiri bangsa. Tidak hanya semangat kemerdekaan yang ia wariskan, tetapi juga gagasan-gagasan yang kelak dijadikan sebagai pedoman pergerakkan para penerusnya. “Tjokroaminoto adalah salah satu tokoh muslim pertama di Indonesia yang menggagas perpaduan Islam dan sosialisme untuk pertama kalinya”, (Mustafa Kemal Pasha, Civics Education 2002:62).

Di sisi yang lain, Tjokroaminoto juga adalah seorang yang nasionalis. Sebelum Bung Karno mendeklarasikan nasionalisme Indonesia, yakni nasionalisme yang mengejawantahkan antara Islamisme dan sosialisme. Tjokroaminoto telah lebih dulu menafsirkan itu. Menurut ia, “dengan memisahkan Islam dari negara, justru telah menyalahi substansi nasionalisme”. Nasionalisme bagi Tjokroaminoto tidak boleh menjadi penyebab kebencian suatu bangsa terhadap bangsa lainnya. Demikian pula, nasionalisme jangan menjadi rintangan menuju cita-cita Tauhid.

Tjokroaminoto memaknai sosialisme sebagai hubungan persahabatan yang erat. Sosialisme berprinsip satu untuk semua dan semua untuk satu, serta saling bertanggung jawab antar-sesama. Dan itu semua sulit untuk diterapkan, tanpa dasar agama. Tjokroaminoto, sebagaimana menegaskan dalam bukunya Islam dan Sosialisme (1963), “Cara hidup yang hendak mempertunjukkan kepada kita bahwa kita adalah yang memikul tanggung jawab atas perbuatan kita satu sama lain”. Dan hal ini menjadi dasar lahirnya Trilogi Tjokroaminoto yang fenomenal, “setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”

HOS Tjokroaminoto, adalah pionir bangsa. Ia adalah hulu dari tokoh-tokoh kemerdekaan kita. Walau, cita-citanya mendirikan negara-bangsa sendiri tidak pernah ia capai dan saksikan dengan mata kepala sendiri. Namun, semangat kemerdekaan yang ia wariskan kepada murid-muridnya adalah harta yang tak ternilai harganya. Karena ia, Bung Karno dan para pendiri bangsa lain dapat memproklamasikan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

HOS Tjokroaminoto wafat di usia 52 tahun di Yogyakarta, tepat pada 17 Desember 1934. Ia dimakamkan di TMP Pekuncen Yogyakarta. Pendek kata, sebagai pedoman, satu pesan Tjokroaminoto pantas dikenang untuk para pemegang estafet kepemimpinan kita, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

Artikel Populer
Artikel Terkait