Romo Mangunwijaya dalam karyanya yang keren berjudul Burung-Burung Manyar pernah berucap: “…..Tanah Air ada di sana, dimana ada cinta dan kedekatan hati, dimana tidak ada manusia yang menginjak-injak manusia lain”. Seperti halnya kita semua pernah memahami sabda Muhammad Sang Nabi,”hidup kita akan bermakna bila kita bermanfaat bagi sesama umat manusia”. Itulah kehidupan yang kita bersama impikan di era pandemi. Hidup yang terasa seger, inspiring dan ambyar, seperti halnya rasa nyruput kopi di senja hari setelah nobar film berjudul Miss India. Adegan anak manusia yang berkisah tentang kegilaan dalam menumpuk harta, tahta dan nama, sebuah manuver mencapai kesuksesan. Langkah kita menggapai matahari. Ampunn!

Menarik sekali bagi kita untuk merenungkan pitutur Syams At-Tabrizi Maha guru misterius yang membisikkan sesuatu yang menggetarkan ke telinga Jalaluddin Rumi kala itu. Rumi berubah total 360 derajat kehidupannya:“gunakan hidupmu dengan baik, atau aku akan merenggutnya darimu!”. Rumi akhirnya jadi sosok yang berbeda, mengalami epifani. Hidupnya dipenuhi dengan cinta kepada sesama sepanjang sejarah.

Marilah kita mewarnai Jum’at berkah, anugerah Yang Maha Kuasa. Memahami kisah dan cerita para Nabi utusan ilahi. Jejak-jejak masa lalu untuk senjata kehidupan kita di masa kini dan masa depan.

Jejak Kekasih Tuhan

Alkisah Kanjeng Nabi Ibrahim Khalillullah sudah terbiasa tidak makan selama tamu tidak duduk di meja makannya. Suatu ketika, beliau memandang seorang pria tua,” Hari ini mari pergi ke rumahku makan bersamaku.”

Pria tua itu menerima ajakan Nabi Ibrahim. Mereka berdua pergi ke rumah beliau hendak menyantap makanan enak. Sebagaimana biasanya, tuan rumah harus menyentuh makanan lebih dulu. Nabi Ibrahim membaca Bismillah al-Rahman al-Rahim dan mulai menyantap makanan. Hanya saja pria tua itu memulai makannya tanpa membaca basmallah. Nabi Ibrahim mengerti pria itu penyembah api. Karenanya, beliau bersikap kasar,”jika saya tahu dari semula anda penyembah api, tentu saya tidak akan mengajak anda.”

Pria tua itu pun tidak jadi menyantap makanan. Ia keluar dan pergi dengan untanya. Lalu, datanglah firman Allah,”Hai Ibrahim, telah Kuberikan kepadanya sebaik-baik nikmat yang sangat diminati jiwa, dan seratus tahun lamanya Aku memberinya rezeki meskipun ia seorang kafir. Namun, mengapa kamu keberatan memberinya walau sesuap roti? Pergilah, ajaklah ia dapat makan bersamamu.”

Kemudian Nabi Ibrahim pergi mengejar pria tua penyembah api itu. Beliau meminta maaf kepadanya,” Mari kita pergi balik ke rumahku lagi, saya lapar, saya tidak akan menyentuh makanan sampai anda datang. Jika anda mau, ucapkanlah basmalah dan jika tidak, jangan ucapkan!”

Pria tua itu bertanya,”anda sudah mengusirku, mengapa anda sekarang datang dan mengajak saya ke rumah anda dan meminta maaf?”

“Allah Ta’ala mencelaku dan berfirman tentangmu:’seratus tahun lamanya Aku memberinya rezeki dan Aku masih akan memberinya rezeki, sedangkan kamu tidak sabar dan telah menyakitinya! Pergilah, relakanlah ia dan mintalah maaf kepadanya. Ajaklah ia ke rumahmu dan janganlah kamu berharap kepadanya agar ia mengucapkan basmalah!”

“Mengherankan! Apakah Tuhanmu bersikap demikian terhadapku? Sementara aku sadar. Hai Ibrahim, terangkanlah kepadaku agamamu itu”. Pria tua itu akhirnya bertaubat dan senantiasa menjadi seorang Mukmin sejati, penyembah Allah penguasa bumi dan seisinya.

What I’ve Done?

Hidup kita memang berdasarkan kisah dan cerita dari masa kecil hingga dewasa. Kita merangkai hari demi hari yang berserakan. Bahkan tak tahu arah dan tujuan kehidupan. Merangkai kembali untuk tegak berdiri, tersenyum, dan bahagia. Tentunya belajar kisah keren dan ‘romantis’ dari lipatan-lipatan kehidupan para nabi.

Para nabi menjadi kompas psikologis umat manusia di era kekinian yang sedang dikarantina corona. Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan kita semua untuk punya hati yang jembar, nyegoro dan ridha menghadap negatifitas zaman. Melayani urusan-urusan rumit di bumi manusia. Melayani urusan manusia itu sulit, kalau melayani Tuhan itu gampang, kata Mas Sobary budayawan kebanggaan kita.

Tak elok kita membeda-bedakan umat manusia berdasarkan agama, ras, suku, budaya dan kelompok. Apalagi sampai berniat menghakimi keyakinan orang lain, menebar kebencian, menuduh sesat dan masuk neraka. Bertuhan dan beragama dijadikan alat untuk mempersekusi yang lain, membunuh dan menggorok leher sesama sebagaimana organisasi barbar dan bengis bernama ISIS.

“Mereka yang bukan saudara dalam seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan, sebuah pitutur dari Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah mengingatkan kita semua. Menghargai kemanusiaan adalah alasan penting dan paripurna agar bisa menghormati pemahaman yang berbeda dengan pemahaman kita. Ukhuwwah Insaniyyah atau merajut persaudaraan harus kita lakukan untuk mencipta semesta yang lebih baik. Menghargai kemanusiaan adalah menghargai Yang Maha menciptakan. Kita juga wajib menjaga kelestarian alam ciptaan Tuhan. Jangan sampai alam menjadi kutukan bencana.

Hanya Tuhan yang tak bersekat, tak berbatas, tak diberi label dan identitas. Hanya Tuhan yang tak dipilah, ditunjuk, dan disifati. Hanya konsep Tuhan seperti itulah yang akan mendatangkan persatuan di antara seluruh umat. Karena ia Tuhan bersama, bukan segelintir kelompok saja.

Selama Tuhan masih diperebutkan, selama itu pula keragaman itu akan menjadi ancaman. Tanpa keesaan dan keadilan-Nya, kita tak akan mengenal anugerah para utusan-Nya, para pemimpin-Nya, dan bagaimana mungkin berharap keselamatan, kelak di hari akhir dari-Nya. Cerita Nabi Ibrahim bukan hanya untuk masa lalu, tapi juga untuk masa kini, era digital yang menyelimuti pikiran dan hati.

Tugas mulia para utusan Tuhan, layak kita lanjutkan bro dan sista. Menggerakkan firman-firman Tuhan yakni melepaskan belenggu-belenggu yang mengikat pikiran dan hati umat manusia.

Akhirul Kalam

Kisah Nabi Ibrahim sangatlah pas dan cocok kita jadikan inspirasi agar menghidupi apa yang terjadi kini. Saatnya di masa kini dan masa depan umat Islam mampu berkolaborasi dengan anak bangsa lain. Membangun peradaban dan menyelesaikan masalah kemanusiaan yang melanda dunia misalnya coronavirus yang sudah mencapai korban 100 juta di penjuru dunia. Kaum milenial juga mesti bisa melahirkan inovasi dan karya besar yang bisa menyelamatkan penduduk bumi, sebagaimana syair sang sufi Jalaluddin Rumi:
Jadilah kamu seperti Nabi Nuh,
Yang memulai karya besar,
Meski seluruh dunia mentertawakannya

Tantangan terbesar bagi anak bangsa yang terjamah dengan gaya hidup ‘kota’ di era digital adalah menemukan kembali ‘sepotong Pancasila’. Sepotong Pancasila itu bernama gotong royong. Dimulai dari kita untuk saling ‘hidup dan menghidupi’ melalui jalan kolaborasi kebaikan dan ketakwaan. Jalan kolaborasi ini sebenarnya adalah gotong royong itu sendiri.

Jangan sampai kaum Muslimin, pecinta para nabi dan semua anak bangsa setuju pendapat bahwa kaum intelektual seperti you dan antum-antum sering menjadi orang-orang yang tidak bisa dipercaya oleh keluarga sendiri, seperti dikatakan pemikir Barat, Auden berikut ini:

“ To the man in the street, who, I’m sorry to say,
Is a keen observer of life,
The word ‘intellectual’ suggest straight away,
A man who is untrue to his wife”

Ala kulli hal, Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sesungguhnya adalah kekasih hati yang senantiasa dihadirkan Sang ilahi untuk membimbing dan ‘menikmati’ perjalanan setiap diri. Sesal kemudian bagi yang tak tahu, bahwa nikmat sesungguhnya adalah kehadiran penunjuk jalan itu.
Anugerah terindah adalah bergabung bersama para teladan Nabi, mengantarkan dan mengedarkan cahaya. Agar sesal tak tertinggal, jadilah penyebar cahaya bagi sesama di Republik tercinta.

Ayahandanya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain pernah menasihati sahabatnya untuk tidak gegabah mengambil kesimpulan perihal sepak terjang manusia. Katanya: Ada yang putih yang kau hindari, dan ada yang hitam yang kau rindukan. Putih tak selamanya kita cari. Hitam ternyata tak selamanya kita hindari. Apa itu? Beliau melanjutkan: Putih yang kau hindari adalah kain kafan. Dan hitam yang kau rindukan adalah Ka’bah Baitullah, rumah Tuhan.

Merindukan Ka’bah sama dengan merindukan dan melanjutkan jejak langkah Nabi Ibrahim yang kita renungi senja ini. Tentunya dengan manuver nyruput kopi. Sekali lagi, selamat menunaikan ibadah ngopi guys!

Jaga kesehatan ya, selalu bahagia.[]

%d blogger menyukai ini: