Seyyed Hossein Nasr & Huston Smith, dalam Islam: Religion, History, and Civilization (2005) menyatakan, Islam diakui sebagai agama sekaligus peradaban (Islam is both a religion and a civilization). Islam hadir, tidak hanya sebagai agama pamungkas, tetapi juga penyempurna terhadap agama-agama terdahulu. Islam membawa peradaban, harapan, dan pembebasan bagi orang-orang yang lemah.

Islam dan peradaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sejak kelahirannya, sejarah mencatat Islam telah membawa konsep dan misi peradaban yang inheren dalam dirinya. Maka dari itu, tidak mengherankan jika kelahiran Rasulullah SAW 15 abad yang lalu sebagai simbol peradaban dan pembebasan. Peradaban Islam bermuara pada din (agama) yang berasal dari wahyu Allah. Hal ini yang menyebabkan peradaban Islam dapat dikenal dengan istilah tamaddun atau madaniyyah. Jadi, kota Madinah bisa dikatakan sebagai tempat dimana tamaddun atau madaniyyah yang berasas pada din itu diproklamirkan kepada seluruh dunia. Robert N. Bellah (1972), menyatakan bahwa Madinah merupakan salah satu bentuk kepemerintahan modern (pembaharu) yang melandaskan konstitusinya pada nilai-nilai kemanusiaan dan demokratis.

Tidak hanya sebagai agama pembaharu, Islam sebagaimana misi Nabi Muhammad SAW diutus adalah sebagai penyempurna akhlak. Dalam artian, Rasulullah SAW hadir membawa peradaban yang ramah bukan marah. Setiap Muslim tidak lain harus meneladani nabinya. Terbukti, Islam dengan akhlak dan peradaban revolusinya telah sukses menjadi agama terbesar. Dan Indonesia, menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Di bumi pertiwi, khazanah keislaman tercatat meluas pada masa Wali Songo. Wali Songo sukses membuktikan kepada kita, berdakwah mengedepankan akhlak dan damai dapat memformalisasikan nilai-nilai sosio-kultural religius yang dianut masyarakat Nusantara yang notabene Hindu-Budha, tanpa pertumpahan darah. Terutama memformalisasikan nilai-nilai ketauhidan adawayasashtra dengan ajaran tauhid Islam yang dianut para guru sufi, (Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, 2019). Wali Songo dapat membaur dengan masyarakat, menciptakan kehidupan yang harmonis dan gotong-royong. Hal demikian pula yang membawa Indonesia masyhur sebagai negara yang ramah dan harmonis penduduknya di kancah dunia. Yang mayoritas (Islam) melindungi minoritas, pun sebaliknya.

Namun, rasa-rasanya, menyaksikan semangat kebangsaan oleh orang-orang beragama dewasa ini ada yang tanggal. Kita kerap kali dipertontonkan ihwal pergulatan antara kaum beragama. Umat Islam yang hakikatnya menjadi umat beragama pembaharu dan cinta damai, malah cenderung sebaliknya. Hal ini tidak lain, berbarengan dengan masuknya faham fundamentalisme Islam. Yang melihat semuanya hanya sekadar dikotomi. Benar-salah, haram-halal, dan surga-neraka. Padahal, jauh sebelum itu baik Rasulullah maupun Wali Songo tidak sekalipun pernah mengajarkannya.

Kejayaan Islam dahulu, khususnya di Nusantara diraih dengan jalan perdamaian. Membaur dan mengejawantahkan diri dengan kearifan lokal. Tidak untuk merubah, apalagi menjustifikasinya salah. Dan Wali Songo membuktikan ini. Kiai Agus Sunyoto sebagaimana dalam bukunya Atlas Wali Songo menyatakan, seni dan budaya yang potensial menjadi sarana komunikasi dan transformasi informasi kepada publik, terbukti dijadikan sarana dakwah yang efektif oleh Wali Songo. Menyebarkan berbagai nilai, paham, konsep, gagasan, pandangan, dan ide yang bersumber dari agama Islam. Maka dari itu, cukup mengherankan jika dewasa ini, di samping semangat beragama yang kian hari kian tinggi, tetapi penerapan-penerapan nilai agamanya sangat minim. Mereka kembali terbelenggu dalam paham Islam yang konservatif.

Tercatat ada beberapa tindak tanduk, sebagai umat Islam di Indonesia kita tidak sama sekali mencerminkan Islam itu sendiri. Sedikitnya, penyerangan Kiai Umar Basri pimpinan Ponpes Al Hidayah Sentiong Cicalengka Jawa Barat mendapat serangan (27/1/2018). Pembubaran acara bakti sosial Gereja Santo Paulus Bantul Yogyakarta, (28/1/2018). Persekusi terhadap seorang Biksu (pemuka agama Budha), di Legok Tangerang oleh sekelompok orang. Dan teranyar, pembubaran ibadah umat Kristen Batak Protestan oleh sekelompok orang di Bekasi, (13/9/2020).

Tidak hanya disitu, agama pun dewasa ini langganan dijadikan sebagai transaksi politik. Praktik politik identitas selalu mewarnai pergulatan politik nasional. Bermodalkan jumlah umat, sekelompok umat Islam kerap kali turun ke jalan, menyuarakan aspirasi dengan gema takbir. Menuntut keadilan dan tumbangnya rezim. Melihat kenyataan ini, mengingatkan saya pada salah satu pernyataan Cak Nur dalam bukunya, Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1987).Ia menyindir dengan keras bahwa problem sosial-keagamaan di negeri ini menjadi akut karena umat Islam lebih mengutamakan jumlah, bukan mutu dalam merespons persoalan zaman.

Arogansi sebagai agama paling besar menyebabkan umat Islam jumawa. Padahal, menurut sebab pemikiran mayoritas itulah yang mengakibatkan umat Islam terkungkung dalam kemunduran dan tidak mau terbuka pada ide-ide modern. Tak pelak, jika umat Islam sekarang hanya mewarisi imajinasi dari kemajuan peradaban Islam di masa lampau. Pergerakan umat Islam menjadi statis, stagnan, pragmatis, dan bahkan mati karena terjebak pada pemikiran yang konservatif. Saling menyalahkan, arogan, serta berambisius sebagai mayoritas yang ingin berkuasa. Miris! Hal demikian, tidak hanya menciderai kebangsaan, tetapi juga agama Islam.

Umat Islam, baiknya kembali ke khittah. Menjadikan khazanah keislaman sebagai kemajuan, tidak lagi dalam imajinasi negara Islam, tetapi menguasai sains, ekonomi, pendidikan, dan disiplin ilmu kontemporer lainnya dalam berbangsa-bernegara. Umat Islam harus tampil dengan gagasan-gagasan visioner, produktif, konstruktif, dan mampu menyatakan kembali sebagai agama yang membawa kebaikan dan peradaban. Bukan eksklusivisme komunal.

Karena hakikatnya, Muslim yang baik adalah Muslim yang merawat, membangun, dan mencintai Tanah Air, bukan malah merusaknya!

%d blogger menyukai ini: