Perumusan Dasar Negara Indonesia, selalu menuai perdebatan. Pergeseran peran untuk mengangkat nama Bung Karno sebagai satu-satunya penggali dasar negara kerap menjadi polemik. Namun, terlepas dari seluruh perdebatan itu, akhirnya Presiden Joko Widodo menetapkan 1 Juni  sebagai hari lahir Pancasila. Penetapan 1 Juni tersebut tertuang dalam Keppres Nomor 24 Tahun 2016.

Secara historis, sebelum  tahun 1968 Bangsa Indonesia selalu memperingati 1 Juni  sebagai Hari Lahir Pancasila. Di samping itu, berbagai kalangan telah mengakui bahwa Penggali Pancasila adalah Bung Karno. Namun, setelah tahun 1968 Hari Lahir Pancasila tidak diperingati lagi. Bahkan, Bung Karno sebagai Penggali Pancasila juga tidak lagi diakui oleh rezim Orde Baru. Setelah dikeluarkanya Tap MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Selain itu, sosialisasi Pancasila juga dilakukan dengan cara-cara indoktrinasi. Sedangkan, pada Era Reformasi Tap MPR II/MPR/1978 telah dicabut dan digantikan oleh Tap MPR Nomor XVIII/ MPR/1998. Meskipun dalam sejarahnya,  UUD 1945 telah diamandemen empat kali dan Pancasila tetap diakui sebagai ideologi negara.

Di sisi lain, tafsir otentik tentang Pancasila mendapat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan pemahaman antara Pancasila 1 Juni 1945, Pancasila 22 Juni 1945, dan Pancasila 18 Agustus 1945. Berbagai pemahaman tersebut seolah-olah menggambarkan pertentangan di antara versi-versi lahirnya Pancasila. Namun, fakta sejarah menjadi bukti bahwa Hari Lahir Pancasila bukanlah dari 22 Juni 1945 atau 18 Agustus 1945, melainkan  bersumber dari pidato Bung Karno pada  1 Juni 1945 dalam sidang BPUPK.

Dalam pidato 1 Juni 1945, Bung Karno mengatakan, Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi. 

Dengan sangat indah, Pidato Bung Karno tersebut mendapat sambutan luar biasa sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila. Di tanggal 1 Juni 1945 pula, bangsa Indonesia kini memperingati hari lahirnya Pancasila. Penggunaan kata “Pancasila” dikenalkan pertama kali secara luas oleh Bung Karno dalam pidato tersebut. Ada lima butir konsep yang ditawarkan Bung Karno saat itu, yakni kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam buku, Lahirnya Pancasila, Kumpulan Pidato BPUPKI  Bung Karno menolak sistem monarki yang mewariskan kekuasaan berdasarkan garis keturunan. Ia percaya, demokrasi adalah sistem terbaik dan sesuai dengan ajaran agama Islam. Bung Karno juga menolak kebangsaan yang bersifat sempit seperti chauvinisme yang berkembang di negara barat.

Hal ini, terlihat dalam prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa yang ditawarkannya sebagai dasar negara. Akan tetapi, prinsip Ketuhanan yang disampaikan Bung Karno lebih bersifat sosiologis. Ia menghormati cara beribadah masing-masing agama yang berkembang di Indonesia. Usulan Pancasila milik Soekarno kemudian ditanggapi dengan serius dan menuai perdebatan. Dari sinilah, penyebab lahirnya Panitia Sembilan yang berisi Soekarno, Mohammad Hatta, Maramis Abikoesno, Abdul Kahar, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Mohammad Yamin, dan Wahid Hasjim. Panitia ini kemudian bertugas untuk merumuskan ulang Pancasila yang telah dicetuskan oleh Soekarno dalam pidatonya.

Disamping itu, Panitia Sembilan tersebut kemudian mencetuskan Piagam Jakarta dalam rapat nonformal pada 22 Juni 1945 dengan 38 anggota BPUPKI. Pertemuan ini, telah menjadi perdebat antara golongan Nasionalis dan tokoh-tokoh Islam. Perdebatan itu terkait tentang sila “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Sila ini kontroversi karena dianggap sebagai cikal bakal Indonesia menuju Negara Islam. Sedangkan Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam agama dan budaya. Akhirnya, dengan sikap arif dan legowo para pendiri bangsa menghapus tujuh kata dalam sila tersebut yaitu, “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Hal ini, dilakukan demi keutuhan Indonesia yang baru berdiri.

Pada prinsipnya, penjabaran pidato 1 Juni 1945 yang dibacakan Bung Karno  tersebut, akhirnya diterima oleh seluruh anggota sidang. Hal ini merupakan keseluruhan proses politik dari kesatuan pemikiran  pendiri bangsa. Dengan demikian, sudah jelas bahwa sesungguhnya Pancasila hanya ada satu, yaitu Pancasila sebagaimana termaktub dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 sesuai dengan jiwa dan semangat lahirnya tanggal 1 Juni 1945. Atas dasar pemikiran itulah, presiden Joko Widodo menetapkan hari lahir Pancasila bukan 22 Juni 1945 dan 18 Agustus 1945, melainkan 1 Juni 1945. Kenyataan ini menegaskan,  spirit lahirnya Pancasila tidak hanya menjadi kolektif memori bangsa. Tetapi, sebagai way of life Bangsa Indonesia untuk terus bersama dalam perjuangan mencapai masyarakat adil dan Makmur.

Oleh: Shinta Lestari

%d blogger menyukai ini: