Belajar dari Krisis Politik di Suriah

Sembilan tahun lalu, krisis politik bergelayut di Suriah. Bermula dari badai “musim semi” yang berhasil menghempaskan rezim diktator di Tunisia dan Mesir. Kelompok oposisi Suriah yang bermukim di Homs mulai meneriakkan gerakan perlawanan untuk melengserkan rezim Bashar al-Assad. Mereka ingin nasib al-Assad seperti Ben Ali di Tunisia, dan Hosni Mubarak di Mesir yang lebih dahulu tumbang.

Pada mulanya, kelompok oposisi yang melakukan perlawanan politik di Suriah merupakan jaringan Ikhwanul Muslimin Suriah yang berpusat di Mesir. Hubungan mereka dengan rezim al-Assad yang berhaluan sosialis sangat buruk. Tidak hanya di Suriah, tapi hampir di seluruh negara Timur-Tengah, Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan transnasional mempunyai ambisi kuat menggulingkan rezim, sehingga mereka dapat membangun imperium (khilafah), sebagaimana dicita-citakan oleh Hasal al-Banna dan Sayyed Quthub.

Di Suriah, Ikhwanul Muslimin juga kerap menggunakan kekerasan untuk melakukan perlawanan politik, bahkan pemberontakan terhadap rezim al-Assad. Sebab itu, rezim Bashar al-Assad tidak mempunyai cara lain, kecuali juga menggunakan cara-cara yang serupa untuk melawan jaringan Ikhwanul Muslimin tersebut. Dan sebagaimana di negara-negara Timur-Tengah lainnya, Ikhwanul Muslimin kerap mengalami kekalahan karena mereka tidak pernah mau belajar untuk menggunakan cara-cara yang elegan.

Comments
Loading...