Analisis Timur Tengah: Di Balik Ketidakpastian Arab Saudi Soal Haji

Semua negara menunggu dengan penuh cemas dan debar perihal keputusan Arab Saudi dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Padahal dalam hal penyelenggaraan umrah, Arab Saudi sangat cepat dan tegas mengumumkan larangan ibadah umrah bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Tidak lama setelah itu, Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah langsung ditutup untuk umum.

Namun dalam hal penyelenggaraan ibadah haji, Arab Saudi terkesan lamban, seolah-olah masih memberikan harapan bagi jemaah haji untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini. Hal tersebut sebenarnya tidak hanya terkait dengan persoalan teologis yang terdapat dalam ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam, melainkan juga terkait dengan ibadah haji sebagai salah satu sumber ekonomi bagi Arab Saudi.

Kita tahu bahwa pandemi benar-benar memukul ekonomi Arab Saudi. Salah satunya karena harga minyak yang terus menurun tajam akibat perang harga antara Arab Saudi dan Rusia. Fakta ini mengancam megaproyek yang direncanakan Muhammad bin Salman (MBS), Neom 2030. Di tengah ekonomi yang sedang morat-morat, Arab Saudi menaikkan pajak, yang itu justru diputuskan pada momen pandemi yang semestinya memberikan ruang bernafas bagi warga.

Dampak yang tak terelakkan, popularitas MBS yang digadang-gadang sebagai suksesor Raja Salman bin Abdul Aziz mulai dipertanyakan. Mulai muncul pandangan, bahwa MBS tidak mempunyai kapasitas yang mumpuni untuk melanjutkan kepemimpinan di masa depan. Belum lagi, kasus kematian Jamal Khashoggi yang menjadi beban sejarah, karena MBS dianggap berlumuran darah. Sampai kapan pun MBS akan selalu dikaitkan dengan kematian mantan jurnalis itu.

Comments
Loading...