ISLAMRAMAH.CO, Tak banyak tokoh-tokoh politik yang piawai menulis dan melahirkan buku-buku babon sekaligus memiliki kepedulian besar terhadap umat dan masyarakat. Namun demikian, KH Saifuddin Zuhri berbeda dari politisi pada umumnya. Beliau melengkapi predikat itu, yakni sebagai politisi yang rutin menulis dan tak pernah lelah untuk memperjuangkan kepentingan umat.

KH Saifuddin Zuhri lahir pada 1 Oktober 1919 di Kawedanan Sokaraja, Banyumas Jawa Tengah. Sejak kecil ia telah akrab dengan dunia pendidikan Islam. Kesehariannya belajar agama Islam di berbagai pondok pesantren di lingkungan daerahnya. Memasuki usia 13 tahun, ia telah fasih membaca al-Quran dan khatam beberapa kitab seperti kitab Safinah, Qatharul Ghaits, Jurumiyah dan kitab-kitab kuning lainnya.

Ketika berusia 17 tahun, ia mengembara ke Kota Solo untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman. Meskipun dengan keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan, Kiai Saifuddin membulatkan tekad dan semangat yang membara. Di Kota itulah ia belajar di Madrasah Mambaul Ulum sekaligus bekerja sebagai wartawan surat kabar Pemandangan untuk membiayai kehidupannya. Selain itu ia juga banyak menulis di surat kabar berbahasa Jawa, Darmokondo.

Sejak itu tradisi menulis telah tumbuh dan menyatu pada diri Kiai Saifuddin Zuhri. Beragam topik ia tulis, seperti tentang Nahdlatul Ulama, politik dalam negeri, sampai masalah-masalah internasional. Jenis tulisannya pun bervariasi, dari artikel opini, ulasan tajuk koran yang dipimpinnya sampai analisis dan esai-esai. Ia pun menulis puluhan buku yang bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya.

Pada tanggal 17 Februari 1962, ia diminta Bung Karno untuk menghadap ke Istana Merdeka. Mulanya ia tak tahu maksud dan tujuan Presiden mengundang secara khusus kepada dirinya. Ternyata dalam pertemuan itu, Bung Karno memintanya untuk menjadi Menteri Agama, menggantikan KH Wahib Wahab yang mengundurkan diri.

Kata Bung Karno, “Penunjukan saudara sudah saya pikir masak-masak. Telah cukup lama saya pertimbangkan. Sudah lama saya ikuti sepak terjang Saudara sebagai wartawan, politisi, dan pejuang umat. Saya dekatkan Saudara menjadi anggota DPA. Saya bertambah simpati. Baru-baru ini Saudara saya ajak keliling dunia, dari Jakarta ke Beograd, Wasington, lalu Tokyo. Saya semakin mantap memilih Saudara sebagai Menteri Agara.”

Permintaan ini tak serta merta diambil oleh KH Saifudin Zuhri. Beliau terlebih dahulu meminta pendapat kiai-kiai NU, seperti Kiai Wahab Chasbullah dan KH Idham Kholid. Setelah bertemu sejumlah tokoh, ia mendapatkan restu dan dukungan sehingga makin mantap menerima pinangan Presiden untuk menjadi Menteri Agama Republik Indonesia.

Selama menjabat Menag, ia dikenal gigih memperjuangkan umat. Ia mengembangkan kampus-kampus Islam ke berbagai daerah. Tak sedikit yang beranggapan bahwa ia seolah-olah hanya menganakemaskan umat Islam. Sejumlah anggota DPR dan sekelompok masyarakat pun menuduhnya telah berbuat diskriminatif terhadap rakyatnya. Kendati demikian, Kiai Saifudin Zuhri tetap tenang dan mengatakan, “setiap rakyat, termasuk masyarakat Islam tidak boleh dibiarkan dalam kebodohan.”

Setelah tak lagi menjabat Menteri Agama, Kiai Saifuddin pada akhir tahun 1980-an mempunyai kebiasaan baru, yaitu sehabis shalat dhuha sekitar pukul 09.00, ia keluar rumah seorang diri dan tiba kembali menjelang dzuhur. Rutinitas ini berlangsung cukup lama sampai keluarga pun mencoba mencari informasi. Sampai suatu hari seorang putranya memergoki Kiai Saifuddin berdagang beras kecil-kecilan di Pasar Glodok. Tanpa harus merasa gengsi, Kiai Saifuddin pun menjalani hidup dengan sederhana.

%d blogger menyukai ini: