ISLAMRAMAH.CO, Ilmu fikih menjadi salah satu ilmu penting dalam khazanah keilmuan Islam. Di Indonesia sendiri, ulama-ulama pakar fikih cukup banyak tersebar di berbagai daerah. Salah satu ulama ahli fikih terkemuka yang menjadi rujukan kalangan santri bahkan ulama-ulama Indonesia adalah Kiai Bisyri Syansuri. Beliau dikenal sebagai sosok kiai pecinta fikih sepanjang hayatnya, hatta menjadikan fikih sebagai pegangan hidup dalam segala lini sampai akhir hayatnya.

Kiai Bisri Syansuri lahir di desa Tayu Wetan, Pati Jawa Tengah pada 18 September 1886 M atau 5 Dzulhijjah 1304 H. Beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan dari ayahnya, Kiai Syansuri. Ia juga banyak belajar kepad banyak kiai, seperti kiai Sholeh, kiai Amin, kiai Siroj dan banyak kiai lainnya. Ia banyak dipengaruhi tradisi membaca al-Quran.

Layaknya santri yang memiliki tradisi berkeliling, Kiai Bisri juga berkelana, mencari ilmu dari satu kiai ke kiai lain, dari satu pesantren dan daerah ke tempat lain begitu seterusnya tanpa kenal Lelah. Kiai Bisri mendapatkan pendidikan agama cukup intens dari Kiai Abdul Salam Kajen. Ia dididik dengan keras sampai membentuk kepribadiannya kelak. Ia mempelajari dasar-dasar tata Bahasa Arab, fikih, tafsir al-Quran dan hadis Nabi.

Kala usianya memasuki 15 tahun, Kiai Bisri menimba ilmu kepada Kiai Kholil Bangkalan. Di sanalah ia bertemu teman sekaligus sahabatnya, Kiai Wahab Chasbullah. Kiai Bisri mulai mendalami ilmu fikih secara serius. Setelah itu selama enam tahun ia belajar di pesantren Tebuiren kepada KH Hasyim As’yari. Ia banyak diajak diskusi oleh Kiai Hasyim, termasuk menyangkut permasalah masyarakat secara moral dan perekonomiannya. Selain itu diskusi juga menyangkut penjajahan oleh Belanda.

Setelah dari Tebuireng, beliau melanjutkan perjalanan keilmuannya sekaligus menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Ia bersama Kiai Wahab Chasbullah menimba ilmu kepada ulama-ulama terkemuka Haramain, seperti Syaikh Muhammad Baqir, Syaikh Muhammad Sa’id Yamani, Syaikh Ibrahim Madani dan Syaikh Jamal Maliki. Selain itu, mereka juga belajar kepada ulama-ulama Nusantara di Haramain, seperti Kiai Ahmad Khatib Padang, Syuaib Daghistani dan Kiai Mahfudz Termas.

Sekitar tahun 1914, terjadi Perang Dunia I. Hal itu mengakibatkan Kiai Bisri harus kembali ke Tanah Air. Setibanya di Tanah Air, Kiai Bisri diminta untuk menetap di tanah kelahiran istrinya, Nyai Hajah Noor Khodijah, di Desa Tambak Beras Jombang untuk membantu mengajar di Pesantren. Namun ia hanya tinggal di sana selama dua tahun. Pada tahu 1917 Kiai Bisri pindah ke desa Denanyar Jombang dan mendirikan pesantren Mambaul Ma’arif.

Di desa Denanyar saat itu terkenal sebagai pusat berbagai bentuk kemaksiatan, begal, dan perampokan. Namun justru keadaan itulah yang mendorong Kiai Bisri untuk lebih semangat mendirikan pesantren. Selain itu, ia mendapat dukungan dari sang istri, mertua dan gurunya, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Berdasarkan penuturan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Kiai Bisri adalah seorang pecinta fikih terkemuka. Kecintaannya kepada fikih sudah kentara sejak ia menjadi santri dan semakin kuat setelah menjadi seorang Kiai. Terbentuknya karakter kiai Bisri sebagai pecinta fikih dimulai ketika ia menimba ilmu kepada Kiai Kholil Bangkalan, dan semakin kuat ketika melanjutkan belajar ke Tebuireng Jombang.

Kiai Bisri dikenal begitu kukuh dalam memegangi kaidah-kaidah hokum fikih dan begitu teguh dalam mengkontekstualisasikan fikih kepada kenyataan-kenyataan hidup secara baik. Ia tidak mudah goyah dalam keadaan krisis. Meskipun demikian, kiai Bisri bukanlah sosok kiai yang kaku dan kolot ketika berinteraksi dengan masyarakat. Hal itu setidaknya terlihat dari upayanya berhasil membangun pesantren Denanyar di tengah kehidupan masyarakat yang gemar melakukan maksiat.

%d blogger menyukai ini: