ISLAMRAMAH.CO, Indonesia dikenal sebagai rumahnya umat Islam moderat di dunia. Selain menjadi negara yang memiliki penduduk dengan penganut agama Islam terbanyak di dunia, umat Islam Indonesia juga dikenal sebagai umat yang fleksibel dalam mengkompromikan ajaran-ajaran Islam dengan tradisi budaya lokal di Indonesia. Karena itulah, umat Islam Indonesia memiliki sikap toleran dan terbuka terhadap pandangan yang lain serta tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

Selaras dengan hal itu, menurut Profesor Syahiron Syamsuddin, guru besar Islam asal UIN Sunan KaliJaga Yogyakarta, sikap moderat umat Islam Indonesia bersumber dari pendidikan keagamaannya ketika belajar di pesantren. Pesantren merupakan lumbung lahirnya umat Islam yang moderat yang amat fleksibel dalam melihat berbagai persoalan di dunia. Paradigma pembelajaran Islam di pesantren yang kaya akan perbedaan-perbedaan pendapat para ulama, membuat santri mudah menerima perbedaan sehingga bisa bersikap moderat dan toleran.

“Sikap fleksibel bisa ditemui di pondok pesantren. Pelajaran-pelajaran yang dipelajari di pesantren, membuat para santri memiliki sikap fleksibel,” kata Profesor Syahiron Syamsuddin daat menjadi pembicara dalam diskusi panel khusus bertajuk Reinventing Subculture of Pesantren and Islamic Moderation di Pesantren Ali Maksum, Krapyak Yogyakarta (11/10).

Sahiron mencontohkan dalam khazanah fikih Islam, ulama-ulama yang berbeda pendapat tentang permasalahan sosial menjadi hal yang lumrah ditemukan di dalam kitab-kitab fikih klasik. Para ulama seringkali memiliki pendapat yang berbeda antar satu dengan lainnya, bahkan perbedaan itu bisa terjadi di internal mazhab tersendiri.

Dalam konteks itulah, umat Islam di Indonesia sudah terbiasa dengan perbedaan-perbedaan pendapat, maka secara otomatis tidak berpikir dan bersikap kaku, namun berpikir sangat terbuka dan fleksibel. Islam di Indonesia pun bisa mengkompromikan ajaran-ajaran Islam dengan tradisi budaya masyarakat setempat. Itulah mengapa Islam di Nusantara mampu berdialog dengan kearifan lokal,” pungkas alumni pesantren Babakan, Ciwaringin Cirebon itu.

%d blogger menyukai ini: