Syaichona Kholil Bangkalan, Ulama terkemuka Indonesia asal pulau Madura, menjadi ulama yang hingga saat ini dikenal sebagai guru dari para ulama Indonesia. Sebagian besar ulama-ulama Indonesia, terutama di tanah Jawa pernah menjadi santri Syaichona Kholil Bangkalan.

Tak hanya itu, Syaichona Kholil Bangkalan juga dikenal sebagai ulama yang memiliki karomah (keistimewaan yang diberikan langsung oleh Allah).

Pernah suatu ketika, menjelang shalat maghrib, Kiai Kholil kedatangan seorang tamu keturunan bangsa Arab. Kiai Kholil mempersilahkannya masuk dan memulai berbincang dengan tamu itu.

Di tengah perbincangan itu, si tamu sempat mengkritik Kiai Kholil karena bacaan al-Fatihah Kiai Kholil dinilai kurang fasih. Meskipun demikian, tak ada sikap lain dari Kiai Kholil kecuali ia hanya diam dan menerima kritik itu.

Karena waktu shalat maghrib telah tiba, Kiai Kholil mempersilahkan tamunya berwudhu di sebelah masjid kawasan pesantren. Ketika tamu itu sedang berwhudu, tiba-tiba ia mendengar suara macan dari belakang.

Ia menengok, ternyata seekor macan tutul besar menghampirinya. Ia kaget bukan main, berteriak panik meminta tolong. Dengan spontan pula ia berucap doa-doa dengan bacaan fasih agar macan itu pergi.

Namun sayang beribu sayang, doa tamu itu tidak mempan, macan tutul tetap tidak beranjak dari tempatnya.

Maka, mendengar kegaduhan di tempat wudhu itu, Kiai Kholil pun datang menghampiri. Di depan macan itu, Kiai Kholil hanya mengucapkan sedikit doa yang tidak terdengar fasih. Macan itu lalu pergi.

Setelah kejadian itu, sang tamu asal Arab itu meminta maaf dan dan menyesali sikap kritikannya kepada Syaichona Kholil. “Tidak perlu meminta maaf, tidak apa-apa”, ujar Syaichona Kholil.

%d blogger menyukai ini: