Gus Dur Budayawan Sejati

Sudah sebelas tahun Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat. Selama hidupnya, ia  melakoni banyak peran, tetapi masih sedikit yang membahas Gus Dur sebagai budayawan. Itu sebabnya, ia bukan orang yang mudah terpapar dengan budaya ke-Timuran agar dicap paling agamis, atau budaya Barat supaya terlihat lebih modern. Demikian Gus Dur, seorang tokoh budayawan sejati.

Tepat pada 30 Desember 2009 Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya di dunia. Sebagaimana peringatan haul Gus Dur pada umumnya, haul ke-11 pun demikian dimeriahkan dengan membangkitkan kembali sosok sang tokoh dan gagasan usangnya. Sebab semakin digali, pemikiran Gus Dur dirasa penting dan kian relevan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Sebagai bentuk refleksi dari pemikirannya, melalui pendekatan budaya sebagai alatnya. Gus Dur dapat memanusiakan manusia.

Sosoknya sebagai budayawan sangat lekat. Hal tersebut dibuktikan, bahwa Gus Dur pernah menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1982-1985. Menurut Gus Dur budaya itu seni kehidupan masyarakat, yang mengatur pola-pola keseharian dalam membentuk tatanan sosial pemilik budaya. Di mana ada kebudayaan atau tradisi, di situlah ada nafas kehidupan manusia.

Sebagai budayawan sejati, Gus Dur sangat selektif dalam menerima budaya asing agar budaya Tanah Air tetap sintas. Salah satu gagasannya tentang pribumisasi Islam merupakan refleksi lekatnya selaku budayawan, yang ketika itu masyarakat Indonesia tengah dilema antara Arabisme dan Islamisme. Kesalahpahaman ini menimbulkan banyak perselisihan kian melebar dan masih hangat diperbincangkan hingga kini.

Pada periode keemasan sebagai sentral aktivis kesenian dan kebudayaan, yang dikutip dalam artikel Gus Dur di antara Seniman dari dkj.or.id. Gus Dur terlibat aktif mengisi ceramah kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Kala itu pada Juni 1975 ceramahnya yang bertajuk “kebudayaan Arab dan Islam” Gus Dur menyinggung masyarakat Indonesia yang gagap mengidentifikasikan budaya Arab sama dengan kebudayaan Islam.

Dalam artian tertentu, setiap wilayah geografis memiliki budayanya masing-masing. Sebab adanya keragaman budaya bukan untuk diseragamkan. Argumentasi budaya Arab sebagai agama seakan-akan menjadikan Islam antipati untuk beradaptasi dengan budaya di luar Arab. 

Padahal, karya monumental Darwin, on the origin of species (1859), sering jadi kontroversi orang beragama, justru subjudulnya jauh lebih penting, by means natural selection or the preservation  of favoured races in the struggle for life. Hidup itu suatu perjuangan melawan seleksi alam. Kiat bertahan hidup bukan menaklukan, melainkan beradaptasi. Hal ini dapat dimaksudkan, sejatinya keberadaan Islam termasuk menjadi agama terbesar di dunia, karena adanya perjuangan seleksi alam, Islam yang melepas kejahiliyahan di zaman dulu.

Di sisi lain, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, dapat tersebar dan bertahan di Indonesia dengan ramah sebab adanya adaptasi dari budaya nenek moyang bangsa yang lebih dahulu menetap sebelum datangnya Islam. Demikian, seorang budayawan yang bestari mestinya dapat melestarikan apa yang diwariskan dan menjadi ciri khas identitas bangsa.

Jika dengan merawat, menjaga dan melestarikan tradisi yang berkembang di Indonesia, mampu memperkuat kebersamaan  dan meneguhkan Tanah Air. Maka dari itu, Gus Dur sebagai budayawan sejati merasa bertanggung jawab untuk mengimplementasikan dan mempromosikannya. Kendati keberanian Gus Dur menyuarakan kebenaran mendapat banyak apresiasi sekaligus kritikan, baik dari para kiai dan masyarakat, ia tetap tak peduli, hingga terbukti apa yang diperjuangkannya merupakan hal yang autentik dan sahih.

Ayu Fuji Astuti
Comments (0)
Add Comment