Meneladani Ajaran Kasih Gus Dur

Haul ke-11 Gus Dur menjadi momen terbaik menilik keagungan kinasihnya terhadap sesama manusia. Keluhurannya terhadap kemanusiaan menjadi pelajaran penting untuk kita teladani. Ia telah menumpahkan sepenuh cintanya kepada kita. Berada di garda depan dalam membela keadilan dan hak-hak kemanusiaan. Tidak hanya dalam ucapan, tetapi juga tindakan. Begitulah Gus Dur, mengajarkan kita dalam mengimplementasikan cinta dan kasih. Keluasan kasihnya telah bermetamorfosis menjadi pelajaran pokok untuk kita kenang dan teladani.

Dengan keuletan dan ketelitiannya melihat Indonesia yang plural, Gus Dur telah sukses menciptakan sintesa kebangsaan, yakni kemanusiaan. Dalam kacamatanya, kita semua terlihat sama sebagai manusia yang berhak dimanusiakan. Di saat yang lain melihat perbedaan sebagai simbol kembencian, ia hadir dengan misi dialog sebagai pelerai. Di saat mayoritas digdaya melucuti minoritas, ia hadir menjadi selimut yang menenteramkan. Hebatnya, itu semua ia lakukan bukan dilandasi tendensi politik, apalagi kekuasaan, melainkan persatuan.

Perjuangan Gus Dur dalam misi kemanusiaan tidak mudah. Tidak saja ditentang oleh kalangan tokoh Islam, tetapi juga internal NU yang merupakan rumahnya bernanung. Namun, bukan Gus Dur jika tidak menerjang ombak. Keberadaannya dalam jalur kasih kemanusiaan telah meyakinkan keteguhannya untuk menabrak batas waktu dan pikiran. Melihat Gus Dur, saya teringat prakata dari sastrawan Libanon tersohor, Kahlil Gibran, “di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila, begitupun sebaliknya.”

Dengan wawasan kebangsaan dan keislamannya yang mumpuni, Gus Dur telah mengejawantahkan keduanya menjadi inheren. Melihat Pancasila yang rentan dialihtafsirkan sebagai tameng kekuasaan. Maka melalui penafsirannya yang mendalam, ia bermaksud menghapus dominasi agama berikut kekuasaan antiagama dalam sebuah bangsa. Pancasila diposisikan sebagai wadah aspirasi yang dapat mencakup kepentingan semua golongan. Maka di mata Gus Dur, posisi Pancasila dalam konteks bangsa-negara adalah di tengah. Dan ini lebih selaras dengan karakteristik masyarakat kita yang gotong-royong. Di banding dengan negara sekular atau pun komunis yang lebih individualis dan sektarianisme.

Puncaknya tatkala ia didaulat sebagai presiden. Dalam merajut dan menciptakan keberpihakannya dalam jalur kasih. Ia menerbitkan Kepres No. 6 tahun 2000, yang mencabut Inpres No 14 tahun 1967  tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Dalam keputusan tersebut, Gus Dur merasa bahwa Pancasila harus diperankan dalam pengakuan hak-hak sipil penganut Konghucu, semisal memberi keleluasaan untuk merayakan Imlek dan beribadah sesuai dengan keimanannya. Tentu, ini menjadi pencapaian emas Gus Dur.

Kehidupan Gus Dur yang angkuh dalam jalur kasih sayang, telah menjadikannya tidak mengenal kompromi dalam hal penindasan kemanusiaan. Hal ini pula yang membuat ia dijatuhkan oleh lawan politiknya. Namun, sekali lagi, bukan Gus Dur namanya jika tidak menerjang ombak. Bagi ia yang abadi adalah kemanusiaan, bukan kekuasaan.

Kepribadian Gus Dur demikian, sebagaimana dapat kita lihat dengan gamblang dalam buku Biografi Gus Dur (2020) karya Greg Barton. Yakni, mengklasifikasikan beliau sebagai sosok politisi yang memiliki prinsip ideal untuk kemajuan suatu negara. Juga sebagai bapak bangsa yang selalu mementingkan nilai-nilai kemanusiaan yang utuh. Serta menjadi pemuka ajaran keislaman yang memberikan porsi kasih sayang, kebaikan, rahmat, dan semangat keislaman yang tetap menjunjung kembali nilai-nilai keislaman.

Gus Dur telah berpulang sebelas tahun yang lalu. Tentu, kehadirannya akan selalu dinantikan dalam keadaan bangsa yang terkadang carut-marut. Kasih sayangnya, pelukan hangatnya, dan pitutur-pituturnya yang menenteramkan akan menjadi hal yang langka dan dirindukan. Namun, kepergian bukanlah akhir dari segalanya.

Gus Dur telah mengawali, saatnya kita meneruskan. Terus konsisten dan istiqamah dalam memperjuangkan serta meneladani cita-cita luhur bangsa, seperti yang telah diajarkannya. Baik kemanusiaan, keadilan, kebenaran, kejujuran, demokratisasi, toleransi, pluralisme, maupun ajaran kasihnya kepada sesama. Gus Dur sudah mendahului, banyak yang telah ia korbankan untuk kita, harta, tahta, dan bahkan martabat pribadinya.

Mengenang kepergian Gus Dur bukan momen untuk kita menumpahkan air mata, tetapi mengumpulkal tekad dalam menatap masa depan yang cerah untuk bangsa dan agama. Tentunya, dalam bingkai kasih dan cinta.

fajar Insani
Comments (0)
Add Comment