Wassalamu ‘Alayya Yauma Wulidtu, Ayat Selamat Natal

Tarik ulur hukum mengucapkan selamat natal, salah satunya karena tumpang tindih konsepsi tentang Yesus atau Nabi Isa AS. Yang kemudian kerap meninggikan tensi sebagian kalangan ketika ada seorang Muslim yang melisankan tahniah natal kepada umat Kristiani. Itu karena Muslim tersebut dianggap telah merisak wilayah akidah. Islam terang menyatakan bahwa Isa adalah hamba Allah yang diberkahi, diberi kitab, dan berstatus sebagai Nabi. Namun, gradasi perbedaan antara Islam dan Kristen mengenai kedudukan Isa al-Masih, tidak kemudian menafikan aspek yang diakui oleh keduanya.

Islam dan Kristen sama-sama menyatakan Isa adalah seorang manusia agung pembawa risalah Allah yang memiliki keistimewaan dan kemuliaan. Perkara umat Kristen memiliki elaborasi konsep tentang Nabi Isa yang disebut sebagai jelmaan Tuhan, itu hal lain lagi. Untuk itu, menyambut gembira akan kehadirannya bukan sesuatu yang aneh atau membahayakan akidah umat Islam, karena masih ada ruang bagi Muslim untuk merayakan kelahiran Isa sebagai Nabi. Yang perlu diketahui bersama, al-Quran sendiri mewartakan ayat mengenai ucapan keselamatan atas kelahiran (natalitas) Nabi Isa AS.

Ayat yang menyuarakan kebolehan mengucapkan selamat natal spesifiknya diterangkan pada surat Maryam [19] ayat 33. Dan keselamatan (semoga) dilimpahkan kepadaku (Isa Alahissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Bukankah ayat ini sudah secara eksplisit menunjukkan keabsahan merayakan momen kelahiran siapapun, khususnya untuk Nabi Isa?

Beberapa sarjana Muslim baik klasik maupun kontemporer memberikan pandangan mengenai ayat tersebut. Imam al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib mencatat bahwa ungkapan salam Nabi Isa atas dirinya pada ayat tersebut seperti halnya salam sejahtera Allah terhadap pribadinya (Isa). Ayat ini juga menyimpan jawaban atas tuduhan zina yang dilayangkan kepada Maryam. Allah ingin menegaskan dengan kemuliaan salam tadi, bahwa Nabi Isa adalah utusan Tuhan yang ditempatkan dan lahir dari rahim suci Bunda Maryam.

Selanjutnya diterangkan, bahwa manusia pasti mengalami tiga fase kehidupan, yaitu kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Ketiganya adalah kondisi paling krusial di mana manusia butuh akan doa keselamatan agar terjaga dari gangguan serta celaka. Maka dari itu, menyelamati seseorang untuk fase-fase tadi adalah hal yang baik untuk dilakukan.

Serupa dengan Imam al-Razi, dalam al-Jami’ li Ahkam al-Quran, Imam al-Qurthuby menyebut bahwa kalimat “keselamatan atasku” pada ayat di atas bermakna keselamatan (kesejahteraan) dari Allah SWT terhadap diriku (Isa) dari gangguan bisikan setan pada hari aku dilahirkan ke dunia. Jika Allah SWT saja memberikan penghormatan doa bagi kelahiran Isa putra Maryam, maka sangat tidak masalah jika kita melakukan hal serupa kepada manusia yang didaulat sebagai utusan Tuhan. Yang kebetulan tradisi perayaannya diinisiasi oleh saudara kita dari umat Kristiani.

Quraish Shihab menyatakan, jika dihayati dan dibaca dengan cermat, ayat di atas mengabadikan serta merestui ucapan selamat natal (hari kelahiran) yang diucapkan oleh Nabi mulia itu. Tahniah natal tidak dilarang selama untuk tujuan persaudaraan, kemaslahatan, dan bila disertai dengan keyakinan bahwa Isa atau Yesus ialah hamba sekaligus Nabi Allah ta’ala.

Komisi Fatwa al-Azhar serta Dar al-Ifta’ Mesir pun tak absen memberikan pandangan yang inklusif. Menurutnya, tidak salah dan tidak pula dilarang memberi ucapan selamat atas hari raya agama lain, sebagai wujud muamalah yang baik kepada sesama manusia. Mengucap selamat natal tidak serta merta merusak akidah seorang Muslim. Pandangan demikian hadir dari pihak yang belum memahami nash-nash syariat secara menyeluruh serta konteksnya sebagai satu kesatuan.

Menyatakan selamat natal ialah kerangka membangun toleransi antarumat beragama. Islam mendorong kuat kultur toleransi, keharmonisan, serta penghargaan atas perbedaan. Semakin paham seorang Muslim atas agamanya, semakin bertambah pula penghormatannya kepada sesama. Kita semua diperintah berbuat baik dan berlaku adil, termasuk kepada Ahli Kitab, sebagaimana mandat surat al-Mumtahanah [60] ayat 8.

Selain kepada Nabi Isa, al-Quran juga merekam ayat-ayat yang berisi ucapan selamat (salam) dari Allah SWT kepada para Nabi-Nya atas kehadiran mereka. Seperti sambutan kepada Nabi Isa dari Allah yang juga terhatur kepada Nabi Yahya AS, tercantum dalam surat Maryam [19] ayat 15. Salam sejahtera juga Allah sampaikan kepada Nabi Nuh AS, diabadikan dalam surat al-Shaffat [37] ayat 79. Masih dalam surat al-Shaffat, ucapan selamat kepada Nabi Ibrahim AS dinyatakan pada ayat 109. Dan selanjutnya, Nabi Musa AS serta Nabi Harun AS disambut salam oleh Allah SWT pada ayat 120 dalam surat al-Shaffat. Nabi bahkan berpuasa Asyura untuk merayakan hari keselamatan Nabi Musa AS.

Salam dan penghormatan terhadap para Nabi ternyata telah menjadi hal yang membudaya. Rasulullah SAW telah mengingatkan bawa para utusan Allah SWT, mereka semua satu ayah berbeda ibu, tetapi agama mereka satu. Mereka mengemban misi yang sama, berkolaborasi mendidik umat dengan periode pengutusan yang berbeda-beda. Kita pun diwajibkan mengimani mereka dan kitab-kitab yang dibawa serta. Dengan fakta demikian, maka pendasaran pihak yang mengecam ungkapan selamat natal pun terpatahkan.

Selain itu, tuduhan tasyabbuh (menyerupai) perilaku atau syiar kalangan non-Muslim dalam konteks ucapan selamat natal juga tidak tepat. Yang tidak boleh ialah tasyabbuh pada ranah ritus peribadatan serta keyakinan (akidah), atau sekiranya hal tersebut telah menyalahi pakem-pakem (tsawabit) dalam agama Islam.

Dalam rangka interaksi sosial, teks-teks nash memperkenalkan satu bentuk redaksi, di mana lawan bicara memahami suatu ungkapan sesuai dengan persepsinya. Padahal persepsi tersebut tidak seperti yang dimaksud oleh yang mengujarkannya, karena si pengucap sendiri mengatakan dan memahami redaksi tadi sesuai dengan pandanganya. Untuk itu, bukan menjadi masalah kalaupun non-Muslim memahami ucapan selamat natal sebagaimana kepercayaan mereka. Karena kita memahami dan mengucapkan selamat hari raya natal sesuai ukuran keyakinan diri kita sendiri.

Al-Quran menegaskan bagaimana Nabi Isa AS dinyatakan sebagai hamba Allah yang padat berkah. Ini menjadi oasis teologis yang bisa dijadikan pijakan oleh umat Islam untuk melangkah terbuka menuju dimensi sosial dalam konteks mendudukkan serta menyikapi polemik memberikan ucapan selamat natal. Rasulullah SAW pribadi mengistimewakan kedudukan Nabi Isa AS. Terlihat dari sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, di mana Nabi menyatakan, Aku orang yang paling utama (dekat) dengan Isa bin Maryam, karena (jarak diutusnya) antara aku dengannya tidak terpisah oleh satu Nabi pun (HR. Muslim).

Nabi Isa jelas mengucapkan harapan dan rasa syukur kepada Allah atas kelahirannya sendiri. Hal itu kemudian dilestarikan oleh pengikutnya dalam bentuk perayaan natal. Keikutsertaan umat Muslim menyatakan selamat natal dapat dipahami dalam dua aspek. Pertama, sebagai ungkapan penghormatan seorang Muslim yang dihadiahkan kepada Nabi Isa atas kemuliaan dan ajaran yang telah ditebarkan kepada umat manusia. Kedua, tahniah natal adalah etika dalam pergaulan. Diterjemahkan sebagai upaya untuk menjalin hubungan baik antarpenganut agama serta bentuk menghargai hari kebahagiaan mereka. Hal ini adalah akhlak karimah seorang Muslim dalam koridor muamalah sosial.

Tidak ada lagi alasan untuk tak berbahagia dan memberi selamat atas kelahiran Nabi Isa AS atau Yesus di momen perayaan natal. Al-Quran dan pernyataan Nabi telah meneguhkan keabsahannya. Sebetulnya tidak cukup sekadar mengucap selamat. Ajaran tentang cinta kasih yang dibawa oleh Isa al-Masih harus juga dibumikan, untuk memperkuat pesan Islam cinta yang dibawa Rasulullah SAW demi mewujudkan kerukunan umat manusia. Nama Islam sendiri mencerminkan identitas teologi keselamatan dan kedamaian. Menggandeng sesama, merangkul semua. Maka dari itu, tak ada celah sejatinya untuk kegaduhan atas nama agama. Selamat berhari raya, saudara Kristiani sekalian. Kebaikan dan berkat Tuhan semoga menyertai semua. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Comments (0)
Add Comment