Menyesuaikan Wacana Teologis dengan Keberagaman Muslim

Umat Islam memiliki keberagaman yang unik. Masyarakat Muslim di suatu wilayah dapat berbeda dangan Muslim di wilayah lainnya. Keberagaman ini semakin nyata manakala kita melihat keberislaman di Tanah Air. Setidaknya, ada tiga corak pemikiran Islam yang berkembang di negeri ini, yaitu konservatif, moderat, dan liberal. Meskipun sama-sama berafiliasi pada Islam, keberagaman juga ini tidak luput dari pergesekan. Belakangan, sebagian Muslim terlibat dalam perdebatan dan perseteruan keras dengan kelompok Muslim lainnya. Di saat yang sama, mereka dapat dengan mudah mempromosikan indahnya hari Natal, kasih sayang, dan persahabatan dengan kelompok Kristiani.

Masyarakat Muslim kini lebih berhasil membangun parsaudaraan antar umat, dibanding melestarikan persaudaraan intra umat Islam sendiri. Tentu, kita semua berharap persaudaraan dapat terjalin pada seluruh umat manusia. Sangat disayangkan apabila sesama umat Islam pada saat ini, malah gagap terhadap keberagaman internalnya. Saya, terus terang, menolak ide-ide persatuan Islam yang memimpikan Islam sebagai satu bentuk komunitas tunggal tertentu. Penting untuk mengapresiasi perbedaan yang ada dalam tradisi Islam sebagai fleksibilitas. Imam Ahmad bin Hanbal pernah menasihati muridnya, Ishaq al-Anbari yang menyusun sebuah buku kompilasi perbedaan hukum fikih, agar merevisi judul bukunya dari “Lubab al-Ikhtilaf” (Inti Perbedaan) menjadi “Kitab Al-Sa’a” (Buku Kelonggaran).

Jadi, perbedaan dan keberagaman perlu senantiasa dipandang dengan cara-cara yang positif. Islam secara alami mengakomodasi berbagai pandangan dan pendapat, beradaptasi dengan semua orang, masyarakat, budaya, dan era. Kita selayaknya menghargai setiap lapisan masyarakat Muslim, dari yang terlunak sampai yang kaku sekalipun, yang memilih hal-hal ringan dan mudah dari Islam, maupun yang memilih untuk menjalankan hal-hal yang sukar. Tidak ada alasan jelas untuk meminggirkan orang-orang yang berislam dengan cara yang ketat, selama berada dalam tuntunan madzhab yang sah.

Klaim kebenaran suatu kelompok akan menindas kelompok lainnya yang dianggap salah atau menyimpang, hal ini telah menjadi kecenderungan memprihatinkan. Padahal, bersikap keras dan penuh prasangka permusuhan kepada saudara seiman, sebenarnya merupakan karakteristik kaum Khawarij. Di hadapan mereka, seorang musyrik bahkan lebih selamat dibanding seorang Muslim yang berbeda pendapat dengan mereka. Sayanganya, benih-benih karakteristik kaum Khawarij ini, mulai tumbuh di sekitar masyarakat Muslim kita.

Maka dari itu, di tengah perbedaan umat Islam, satu hal terpenting ialah mengelola perbedaan lapisan masyarakat Muslim dengan sebaik-baiknya. Ajaran Islam mampu mencair ke setiap problematika yang ada dalam setiap lapisan sosial. Sehingga, orang dari berbagai latar belakang dapat menemukan jawaban yang peka berdasarkan pemahaman dasar dan konteks mereka.

Menyesuaikan penjelasan, artikulasi, dan presentasi wacana teologis berdasarkan kebutuhan audiensnya dikenal dengan apologetika, yakni membenarkan dogma dengan argumen yang masuk akal bagi yang meragukan ataupun menyelisihinya. Pada zaman sekarang, kekuatan sosial seringkali meremehkan keyakinan agama, sehingga begitu banyak orang dihadapkan pada keraguan tentang agama.

Apologetika berarti uraian sistematis untuk mempertahankan suatu ajaran. Apologetika merujuk pada pembelaan intelektual. Menurut Dr Hatem al-Haj, gagasan apologetika sangat berdekatan dengan istilah Kalam yang telah digunakan untuk merujuk pada pembelaan rasional doktrin agama dalam tradisi Islam. Menafsirkan agama agar dapat menjawab tantangan masyarakat, tidak lain untuk mempertahankan iman dan ketertiban Islam di tengah arus ideologi dunia. Serta, mempertahankan kedudukan doktrinal dan membela umat Islam dari tantangan dan provokasi.

Dibanding menyeragamkan ajaran dan pemahaman Islam, seseorang harus terbebas dari ketergantungan pada ketunggalan wacana teologis, alias perasaan paling benar sendiri. Mengundang orang lain kepada cahaya agama akan lebih mudah dengan pemperkaya pendekatan untuk kebutuhan masing-masing karakter sosial. Khalifah Harun al-Rasyid pernah memerintahkan pembakuan karya-karya fiqih Imam Malik agar diikuti oleh semua orang, Imam Malik keberatan seraya berkata, “wahai pemimpin orang-orang beriman, perbedaan antara ulama adalah rahmat dari Tuhan untuk umat ini. Masing-masing mengikuti apa yang dia yakini benar, masing-masing atas petunjuk, masing-masing mencari Allah.”

Secara langsung, apologetika berhubungan dengan prinsip menentukan klarifikasi, justifikasi, dan penerapan wacana teologis yang sesuai untuk problem yang terjadi di tengah masyarakat tertentu. Menyesuaikan variasi gaya retorika dan argumen berdasarkan audiens telah menjadi warisan intelektual Islam. Melalui riwayat-riwayat hadis, kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW tidak jarang memberikan jawaban yang berbeda-beda atas sebuah perkara, yang disebabkan oleh perbedaan kondisi orang yang bertanya. Maka dari itu, hal ini merupakan konsep yang mapan dalam Islam, Ali bin Abi Thalib berkata, “bicaralah kepada orang-orang dengan cara yang mereka pahami, dan jangan berbicara kepada mereka dengan cara yang mereka anggap tidak menyenangkan. Apakah Anda ingin orang menolak Allah dan Rasul-Nya?”

Maka dari itu, penting sekali untuk memastikan masing-masing kelompok Muslim sama-sama memperoleh cahaya Islam yang dibutuhkannya. Hal demikian semata-mata untuk melindungi masyarakat Muslim dari perpecahan dan perselisihan internal, akibat saling klaim kebenaran. Pertanyaan seputar wacana teologis seperti hak asasi manusia, syariat Islam, jihad, pemerintahan, demokrasi, dan sebagainya perlu dijawab dengan apologetika Islam. Khususnya, dalam obrolan santai dengan tetangga, teman, rekan kerja, anggota keluarga, atau percakapan di media sosial. Mari jaga ukhwah di tengah keberagaman Muslim.

Selvina Adistia
Comments (0)
Add Comment